SINOPSIS

Tujuan blog ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, Blog ini mudah-mudahan dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Blog ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaan dan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.








More Bismillah Comments



Content this BLOG


Selasa, 23 Februari 2010

Sebelum Semuanya Berlalu

Teman ini ada kejadian yang mungkin bisa diambil hikmahnya.

Inti dari kejadian ini adalah jangan pernah yang namanya menunda kebaikan apalagi perintah Allah SWT
Suatu siang di sudut Jakarta. Puluhan orang berkumpul di sebuah mushalla yang tidak begitu besar. Seusai melakukan shalat Zuhur, mereka bersiap-siap melaksanakan shalat jenazah.

Sebelum shalat jenazah dimulai, imam shalat berkata, ”Para jamaah sekalian, hari ini kita akan menyalatkan salah seorang kawan kita, Si Fulan (nggak perlu disebutkan namanya). Kemarin dia mandi sendiri, namun hari ini harus dimandikan. Kemarin dia memakai pakaian sendiri, namun hari ini harus dipakaikan/dikafani. Biasanya dia shalat sendiri, namun hari ini harus kita shalatkan. Sebelumnya, dia bisa bepergian ke mana-mana sendiri, tetapi hari ini ia harus kita gotong dan antarkan ke liang kubur.”
Alangkah cepat semuanya berlalu dan betapa tidak terduga datangnya maut. Karena itu, Nabi kita mengingatkan setiap Muslim agar jangan lalai (artinya selalu waspada). Beliau bersadba, ”Jagalah lima perkara, sebelum datang yang lima. Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, mudamu sebelum tuamu, kayamu sebelum miskinmu, dan lapangmu sebelum sempitmu.”

Sudah jadi tabiat dan kebiasaan manusia mudah mengabaikan apa-apa yang ada di tangannya. Nikmat sehat baru terasa ketika satu saja anggota tubuh ada yang sakit. Nikmat masa muda baru terasa nilainya tatkala anggota fisik sudah tak berdaya. Nikmat umur dan hidup baru terasa sangat berharga manakala malaikat maut datang menjemput.

Padahal, kata Quraish Shihab (salah satu ulama kita) saat menulis pengantar bukunya, Perjalanan Menuju Keabadian, utusan-utusan malaikat maut datang jauh sebelum datangnya malaikat maut itu sendiri. Misalnya penyakit, uban, serta berkurangnya ketajaman pendengaran, dan penglihatan.

Setiap Muslim harus senantiasa waspada, menjaga hari ini dan waktu yang dipunyainya sebelum semuanya hilang tanpa pernah kembali. Seperti kata seorang penyair, ”Hari yang telah berlalu tak ‘kan pernah lagi kujumpai. Walaupun aku bertemu hari ini, namun semuanya tak pernah sama lagi.”

Berkaitan dengan itu, nabi pernah mengajarkan kepada Muadz bin Jabal sebuah doa yang sangat indah. ”Ya Muadz, sehabis shalat jangan tinggalkan ucapan, ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat Engkau dan banyak bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” disalin dan diambil dari (HR An-Nasaa’i dan Abu Dawud) Wallahu a’lam.

Senin, 22 Februari 2010

Mengartikan Cinta

Tahukah anda apa arti cinta

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Kata cinta sendiri sebenaranya memiliki makna yang luas dan para pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit, antara lain:

Cinta terhadap keluarga
Cinta terhadap teman-teman, atau philia
Cinta yang romantis atau juga disebut asmara
Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros
Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme
Cinta akan sebuah konsep tertentu
Cinta akan negaranya atau patriotisme
Cinta akan bangsa atau nasionalisme
Cinta kepada Tuhan

Sekedar membatasi pembicaraan, yang sedang dibicarakan cinta di sini adalah hubungan antarpribadi lawan jenis. Untuk memudahkan menerka makna cinta antarpribadi, ada baiknya kita mengenal unsure cinta antarpribadi ini. Cinta antarpribadi ini mempunyai beberapa unsure antara lain:

Afeksi: penghargaan kepada orang lain.
Kedekatan: pemuasan kebutuhan emosional dasar.
Altruisme: memperhatikan orang lain dan kebutuhannya daripada diri sendiri.
Resiprokasi: tak bertepuk sebelah tangan.
Komitmen: gairah untuk menjaga cinta.
Keintiman emosional: berbagi emosi dan perasaan.
Kekeluargaan: ikatan family.
Syahwat: gairah seksual.
Keintiman fisik: berbagi kedekatan daerah-daerah intim pribadi.
Kepentingan pribadi: kebutuhan akan penghargaan.
Pelayanan: keinginan untuk membantu.

Tentu masih ada banyak teori lain tentang cinta selain sekedar mengemukakan unsur-unsur cinta di atas. Setiap kebudayaan dapat mempunyai pendekatan yang berbeda untuk memaknai cinta. Bahkan dalam satu kebudayaan mungkin ada beberapa pendekatan untuk memaknai cinta. Pada dasarnya cinta merupakan konsep yang abstrak, lebih mudah untuk mengalaminya daripada menerangkannya.
Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Dalam Islam ada seorang ulama yang bernama Ibnu Qayyim menerangkan cinta ini dalam bukunya yang terkenal, Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin. Ibnu Qayyim sendiri mendata 50 istilah berkaitan dengan cinta. Katanya, “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia.”
Kata teratas yang ditempatkan oleh Ibnu Qayyim sebagai kata yang berhubungan dengan cinta adalah al-Mahabbah. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari al-habab, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-habbu, yaitu inti sesuatu.

Dari istilahnya, al-Mahabbah tidak berbeda; mempunyai definisi yang banyak. Sebagian artinya adalah sebagai berikut. Ada yang mengartikannya sebagai kecenderungan terus-menerus dengan hati meluap-luap. Ada yang mengartikan mendahulukan kepentingan orang yang dicintai daripada yang lain. Ada yang mengartikan menuruti keinginan orang yang dicintai, baik si dia berada di samping atau jauh. Ada juga yang mengartikan sebagai pengabdian.
Ada yang mengartikan bahwa makna hakikinya adalah menyerahkan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang menyisa. Ada yang berpendapat artinya engkau rela mengerjakan apa pun yang disenangi orang yang kau cintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa, dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan. Ada yang berpendapat, artinya ialah usahamu untuk membuat sang kekasih menjadi ridha.

Sebagian besar makna al-Mahabbah yang disebutkan Ibnu Qayyim berpusat bagaimana manghaturkan apa yang kita punyai; kemampuan, harta, nyawa kepada kekasih agar ia ridha, senang, dan keinginannya terpenuhi. Hamper tidak ada makna al-Mahabbah yang berpusat pada memuaskan keinginan pribadi orang yang mencintai kecuali pada satu makna, keinginan agar yang dicintai selalu hadir di sisi orang yang mencintai. Selain satu makna itu tidak ada.

Seharusnya Cinta

Dari ilmu psikologi Barat dan pandangan Ibnu Qayyim di atas, makna cinta didominasi oleh oleh bagaimana agar yang dicintai ridha, terpuaskan keinginannya oleh orang yang mencintai. Mereka yang mencintai. Mereka yang mencintai tergerak untuk menghargai kekasihnya, memperhatikannya, dan memenuhi kebtuhannya daripada kebutuhan diri sendiri.

Cinta yang berjalan pada porosnya tentulah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai bukan sebaliknya. Cinta yang seharusnya tentu membuat yang dicintai merasa dihargai, aman, terpenuhi kebutuhannya, damai, dan tenteram.

Memaknai cinta dengan makna seperti itu tentu membuat hidup lebih indah dan mudah. Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang kau cintai. Dan dengan seperti itulah engkau merasa bahagia. Dengan membahagiakan orang yang engkau cintai-lah engkau akan merasa bahagia. Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang kau cintai menjadi bahagia. Dengan melihat orang yang kau cintai berada dalam kebahagiaan, engkau merasa bahagia, dan begitulah engkau mencintainya.

Rabu, 03 Februari 2010

I k h l a s h

Didalam Al-Qur'an ada ayat yang berbunyi  :
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)." (Q.s. Az Zumar: 3).

Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: IkhIas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim." (H.r. Ahmad, dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar).

Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya sesembahan. Sikap taat dimaksudkan adalah taqarrub kepada Allah swt, mengesampingkan yang lain dari makhluk, apakah itu sifat memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia. Ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah swt. semata. Dapat dikatakan, "Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk" Dikatakan juga, "Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia."

Nabi saw. ditanya, apakah ikhlas itu? Nabi saw. bersabda:
'Aku bertanya kepada Jibril as. tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya?'Allah swt. menjawab, 'Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai." (H.r. Al Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, dan sifat shidq berarti membersihkan diri dari kesadaran akan diri sendiri. Orang yang ikhlas tidaklah bersikap riya' dan orang yang jujur tidaklah takjub pada diri sendiri."
Dzun Nuun al-Mishry berkomentar, "Keikhlasan hanya tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menetapi dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus-menerus."
Abu Ya'qub as-Susy mengatakan, "Apabila mereka melihat keikhlasan di dalam keikhlasannya, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan lagi."

Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, 'Ada tiga tanda keikhlasan: Manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya."

Abu Utsman al-Maghriby mengatakan, "Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlas orang awam. Mengenai ikhlas manusia pilihan (khawash), keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka menyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri, tidak pula, peduli terhadap amalnya. Itulah keikhlasan kaum pillhan."
Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan, "Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan keikhlasannya itu, jika Allah swt. menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, dia akan mengugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri dan jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan Allah swt. (mukhlash), bukannya berikhlas (mukhlish)."

Sahl berkata, "Hanya orang yang ikhlas (mukhlish) sajalah yang mengetahui riya'."
Abu Sa'id al-Kharraz menegaskan, "Riya' kaum 'arifin lebih baik daripada ikhlas para murid."
Dzun Nuun berkata, "Keikhlasan adalah apa yang dilindungi dari kerusakan musuh."

Abu Utsman mengatakan, "Keikhlasan adalah melupakan pandangan makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada Khalik."
Hudzaifah al-Mar'asyi berkomentar, "Keikhlasan berarti bahwa perbuatan-perbuatan si hamba adalah sama, baik lahir maupun batinnya."
Dikatakan, "Keikhlasan adalah sesuati yang dengannya Allah swt. berkehendak dan dimaksudkan tulus dalam ucapan serta tindakan."
Dikatakan pula, "Keikhlasan berarti mengikat diri sendiri pada kesadaran akan perbuatan baik"
As-Sary mengatakan, " Orang yang menghiasi dirinya di hadapan manusia dengan sesuatu yang bukan miliknya, berarti tercampak dari penghargaan Allah swt."
Al-Fudhail berkata, "Menghentikan amal-amal baik karena manusia adalah riya', dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkanmu dari dua penyakit ini."

Al-junayd mengatakan, "Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya."
Ruwaym menjelaskan, "Ikhlas dalam beramal kebaikan berarti bahwa orang yang melakukannya tidak menginginkan pahala, baik di dunia maupun di akhirat."

Dikatakan kepada Sahl bin Abdullah, 'Apakah hal terberat pada diri manusia?" Ia menjawab, "Keikhlasan, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya."
Ketika ditanya tentang ikhlas, salah seorang Sufi menjawab, "Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah swt. untuk menjadi saksi atas perbuatanmu."

Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku menemui Sahl bin Abdullah pada hari jum'at di rumahnya sebelum shalat. Ada seekor ular di rumahnya, hingga aku ragu-ragu berdiri di pintu. Ia berseru, 'Masuklah! Tidak seorang pun dapat mencapai hakikat iman jika ia masih takut pada sesuatu pun di atas bumi.' Kemudian ia bertanya, Apakah engkau hendak mengikuti shalat jum'at?' Aku menjawab, jarak dari sini ke masjid di depan kita adalah sejauh perjalanan sehari semalam.' Maka Sahl lalu menggandeng tanganku, dan sesaat kemudian kami telah berada di masjid itu. Kami masuk ke dalam dan shalat, kemudian keluar. Sahl berdiri di sana, melihat ke arah orang banyak, dan berkata, 'Banyak orang mengucapkan Laa i1aaha illallaah, tapi yang ikhlas amatlah sedikit'."
Makhul berkata, "Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama empatpuluh hari, kecuali akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari hati pada lisannya."

Yusuf bin al-Husain berkomentar, "Milikku, yang paling berharga di atas dunia ini adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah berjuang untuk membebaskan hatiku dari riya', namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dalam warna yang lain!"

Abu Sulaiman berkata, "Jika seorang hamba berikhlas, maka terpotonglah waswas dan riya'."



Jadi berhati-hatilah dengan hatimu untuk sempurnya ibadahmu







Masuk Islam karena suara adzan

Ini kisah menarik tentang mualaf dan patut disimak


Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu Muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang kami rangkum dari beberapa situs.

“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.

“Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang Muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling

Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara Muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan masjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan Muslim, dilarang masuk ke dalam masjid,“ katanya.

“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.

Tertarik bahasa Arab

“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris
dan Jerman.

Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.

Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan Muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Al-Quran


Ada juga beberapa warga Muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang Muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. “Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan Muslim,” kenangnya.

“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.

Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang disebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan Muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.

Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. “Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.

Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).

Saya bertanya kepada kawan-kawan Muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”

Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang. Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”

Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Setiap hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang Muslim.

Debar aneh

Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman Muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“

“Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang Muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.

Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.

Bersyahadah


Tatiana memberitahukan rekan Muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Seperti kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.

Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.

“Contekan” shalat

“Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya dengan sangat senangnya.

“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya. “Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.

Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. 
“Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya.

Diambil dari kisah yang ada di (Hidayatullah.com)








Selasa, 02 Februari 2010

Tukang Sampah

Tuh kamu lihat kalau kamu tidak rajin belajar, kamu nanti kerja kayak begitu jadi tukang sampah yang setiap hari pekerjaan korek-korek sampah untuk dikumpulkan dipembuangan sampah. Itulah cerita  yang sering kita berikan kepada anak-anak kita kalau malas belajar atau tidak mau belajar.

Bisa juga kita seringkali memberikan contoh kepada anak kita, keponakan kita kalau pekerjaan tukang sampah itu jorok dan tidak pantas. Apakah betul demikian....


Inilah kisah menarik yang patut kita simak.




Setiap hari tukang sampah di perumahan tempat keluargaku tinggal lewat, dan membawa sampah-sampah yang telah kami bungkus plastik. Bila seminggu saja ia tidak datang dengan gerobaknya, kami sering dibuat kelabakan.

Pernah suatu ketika ia sakit berhari-hari. Maka setiap kali kami harus terpaksa membakar sampah-sampah kami di tempat sampah di depan rumah kami. Bila tidak dibakar, maka bau yang menyengat akan cepat merajalela, tidak hanya di sekitar rumah kami, tetapi juga sampai ke ujung jalan.

Kami tidak bisa bayangkan, bila tidak ada satu pun orang yang mau menjadi tukang sampah bagi kami. Yang rajin membersihkan sampah-sampah bagi kami. Yang rela menghindarkan kami dari berbagai macam penyakit karena sampah kami.

Ternyata yang butuh tukang sampah tidak hanya diperumahan atau dirumah,-rumah tempat kita tinggal, tapi juga hati kami. Bila tidak ada "tukang sampah" yang bersedia memperhatikan kami, apakah jadinya rumah yang di dalam batin kami? Tidakkah berbagai "penyakit" akan semakin berkembang dan menumpuk menyesakkan jiwa?

Sekaya-kayanya orang hidup di dunia, kita masih perlu juga untuk menjadi "pemulung sampah" bagi sesama, terutama bagi mereka yang kita cintai. Mencintai orang lain itu berarti siap menjadi tukang sampah, dan bahkan ada kalanya harus malahan menjadi tempat sampah itu sendiri. Bila tidak mau demikian, berarti cinta yang Anda katakan tidak pernah menjadi kenyataan. Mari kita bantu mereka sebenarnya dengan adanya mereka hidup kita, keluarga kita, lingkungan kita serta kesehatan kita jadi lebih terjaga. Semoga...........

Selasa, 26 Januari 2010

Cinta adalah anugrah

Cinta adalah anugrah Tuhan terhadap manusia
Dan bila cinta itu bersemi, apalagi membumi maka besarkanlah nama Tuhanmu, biar hidupmu jauh lebih berarti
Iri, dengki, sirik, marah, mau menang sendiri, pongah, itulah bagian atau tanda-tanda penyakit hati yang harus diobati, agar bisa bertemu Sang Pencipta Illahi Rabbi

Arti Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Kata cinta sendiri sebenaranya memiliki makna yang luas dan para pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit, antara lain: Cinta terhadap keluarga Cinta terhadap teman-teman, atau philia Cinta yang romantis atau juga disebut asmara Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme Cinta akan sebuah konsep tertentu Cinta akan negaranya atau patriotisme Cinta akan bangsa atau nasionalisme Cinta kepada Tuhan Sekedar membatasi pembicaraan, yang sedang dibicarakan cinta di sini adalah hubungan antarpribadi lawan jenis. Untuk memudahkan menerka makna cinta antarpribadi, ada baiknya kita mengenal unsure cinta antarpribadi ini. Cinta antarpribadi ini mempunyai beberapa unsure antara lain:
Afeksi: penghargaan kepada orang lain. Kedekatan: pemuasan kebutuhan emosional dasar. Altruisme: memperhatikan orang lain dan kebutuhannya daripada diri sendiri.
Resiprokasi: tak bertepuk sebelah tangan. Komitmen: gairah untuk menjaga cinta. Keintiman emosional: berbagi emosi dan perasaan.
Kekeluargaan: ikatan family.
Syahwat: gairah seksual. Keintiman fisik: berbagi kedekatan daerah-daerah intim pribadi. Kepentingan pribadi: kebutuhan akan penghargaan.
Pelayanan: keinginan untuk membantu. Tentu masih ada banyak teori lain tentang cinta selain sekedar mengemukakan unsur-unsur cinta di atas. Setiap kebudayaan dapat mempunyai pendekatan yang berbeda untuk memaknai cinta. Bahkan dalam satu kebudayaan mungkin ada beberapa pendekatan untuk memaknai cinta.
Pada dasarnya cinta merupakan konsep yang abstrak, lebih mudah untuk mengalaminya daripada menerangkannya. Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Dalam Islam ada seorang ulama yang bernama Ibnu Qayyim menerangkan cinta ini dalam bukunya yang terkenal, Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin. Ibnu Qayyim sendiri mendata 50 istilah berkaitan dengan cinta. Katanya, “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia.” Kata teratas yang ditempatkan oleh Ibnu Qayyim sebagai kata yang berhubungan dengan cinta adalah al-Mahabbah. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari al-habab, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-habbu, yaitu inti sesuatu. Dari istilahnya, al-Mahabbah tidak berbeda; mempunyai definisi yang banyak. Sebagian artinya adalah sebagai berikut. Ada yang mengartikannya sebagai kecenderungan terus-menerus dengan hati meluap-luap. Ada yang mengartikan mendahulukan kepentingan orang yang dicintai daripada yang lain. Ada yang mengartikan menuruti keinginan orang yang dicintai, baik si dia berada di samping atau jauh. Ada juga yang mengartikan sebagai pengabdian. Ada yang mengartikan bahwa makna hakikinya adalah menyerahkan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang menyisa. Ada yang berpendapat artinya engkau rela mengerjakan apa pun yang disenangi orang yang kau cintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa, dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan. Ada yang berpendapat, artinya ialah usahamu untuk membuat sang kekasih menjadi ridha. Sebagian besar makna al-Mahabbah yang disebutkan Ibnu Qayyim berpusat bagaimana manghaturkan apa yang kita punyai; kemampuan, harta, nyawa kepada kekasih agar ia ridha, senang, dan keinginannya terpenuhi. Hamper tidak ada makna al-Mahabbah yang berpusat pada memuaskan keinginan pribadi orang yang mencintai kecuali pada satu makna, keinginan agar yang dicintai selalu hadir di sisi orang yang mencintai. Selain satu makna itu tidak ada. Seharusnya
Cinta Dari ilmu psikologi Barat dan pandangan Ibnu Qayyim di atas, makna cinta didominasi oleh oleh bagaimana agar yang dicintai ridha, terpuaskan keinginannya oleh orang yang mencintai. Mereka yang mencintai. Mereka yang mencintai tergerak untuk menghargai kekasihnya, memperhatikannya, dan memenuhi kebtuhannya daripada kebutuhan diri sendiri. Cinta yang berjalan pada porosnya tentulah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai bukan sebaliknya.
Cinta yang seharusnya tentu membuat yang dicintai merasa dihargai, aman, terpenuhi kebutuhannya, damai, dan tenteram. Memaknai cinta dengan makna seperti itu tentu membuat hidup lebih indah dan mudah. Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang kau cintai. Dan dengan seperti itulah engkau merasa bahagia. Dengan membahagiakan orang yang engkau cintai-lah engkau akan merasa bahagia. Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang kau cintai menjadi bahagia. Dengan melihat orang yang kau cintai berada dalam kebahagiaan, engkau merasa bahagia, dan begitulah engkau mencintainya.

Beriman kepada takdir

Beriman terhadap qadar (takdir) membuahkan basil yang sangat besar, anda pasti bertanya kenapa ?

Mari kita jabarkan dalam kehidupan sehari-hari kita dalam melakukan setiap kegiatan yaitu:


Pertama
Bersandar kepada Allah disaat melakukan usaha, tidak bersandar pada hukum sebab akibat semata karena segala sesuatu yang terjadi atas takdir dan kehendak Allah.

Kedua
Seseorang menjadi tidak bangga diri di saat mendapatkan keinginannya karena seluruhnya pemberian dan karunia itu pemberian Allah. Sebab bangga diri akan membuat seseorang lalai untuk mensyukuri nikmat Allah.Dan bila kita selalu mensyukuri apa yang diberi serta dinikmati coba anda rasakan nanti

Ketiga
Merasa tenang dan tentram jiwanya dalam menghadapi segala yang terjadi pada dirinya dan tidak merasa gundah dan gelisah di saat ditimpa musibah atau kehilangan sesuatu yang dicintainya. Karena hal itu terjadi atas kehendak dan takdir Allah yang menguasai langit dan bumi, semua yang Dia kehendaki pasti terjadi.

Firman Allah:
''Tiada suatu musibahpun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirmu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri'' (Al-Hadid:22-23)


Nabi bersabda:
''Sungguh menakjubkan segala urusan orang mukmin, seluruhnya baik, yang itu tidak terjadi kecuali pada diri orang mukmin. Jika ia mendapatkan kenikmatan lalu bersyukur maka itu baik baginya, jika tertimpa musibah lalu bersabar maka itu juga baik baginya.''(HR. Muslim)








Rabu, 20 Januari 2010

Taat Kepada Penguasa


Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf)

Dengan membaca keterangan di atas maka jelaslah kekeliruan orang yang mengatakan bahwa dewasa ini di segenap penjuru dunia tidak ada lagi ulil amri/penguasa yang harus ditaati. Bahkan, dia mengatakan bahwa masyarakat yang taat kepada para penguasa tersebut maka telah menjadikan mereka sebagai para thoghut (sesembahan selain Allah)! Dan hal itu juga mengisyaratkan kepada kita bahwa pemikiran yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa yang zalim -walaupun tidak mengharuskannya- adalah salah satu pemikiran sesat warisan sekte Khawarij yang harus kita waspadai!

Semoga Allah memberikan taufik kepada para penguasa umat Islam untuk menegakkan tauhid dan sunnah serta memberantas syirik dan bid’ah.
Selesai disusun di Yogyakarta.
Pertengahan Muharram 1431 H
Seraya memuji kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad,  para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka

Disalin kembali untuk Dakwah & Ukhuwah

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id