SINOPSIS

Tujuan blog ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, Blog ini mudah-mudahan dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Blog ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaan dan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.








More Bismillah Comments



Content this BLOG


Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2010

London juga Miliki Pusat Kebudayaan Islam

 
15/08/2010 21:13
Liputan6.com, London: Sebuah pusat kebudayaan Islam, termasuk masjid yang cukup megah, dibangun di London, Inggris. Masjid Al-Manaar termasuk terbesar di Inggris dan diresmikan oleh Pangeran Charles pada 2000 lalu. 

Kegiatan di dalam masjid juga terus berkembang. Proyek pendidikan yang merupakan aspirasi jangka panjang dan inisiatif pada 2004 itu juga mendirikan lembaga pendidikan modern. Lembaga itu melayani kegiatan sekolah Islam dan memberikan beasiswa kepada yang membutuhkan.

Masjid itu memberikan kesejukan bagi warga Inggris, setelah seorang wartawan BBC meliput kegiatan masjid. Setiap Jumat, sekitar lima ribu warga Inggris yang beragama Islam mendatangi masjid tersebut untuk melakukan salat Jumat.(BBC/DES/SHA)
Oleh:
Desika Pemita
 

Obama Tetap Mendukung Pembangunan Masjid

Liputan6.com, Florida: Banyak ditentang sejumlah kelompok, Presiden Amerika Serikat Barack Obama bergeming dengan keputusannya. Obama tetap mendukung pembangunan pusat Islam dan masjid dekat "Ground Zero" New York, AS. "Saya tidak sedang mengomentari dan saya tidak akan mengomentari kebijaksanaan pengambilan keputusan soal pembangunan masjid di sana," kata Obama, Ahad (15/8).

Izin diberikan mengingat pembangunan pusat Islam dan masjid di lokasi serangan 11 September 2001 itu untuk menggambarkan "nilai-nilai Amerika". Hak orang untuk beribadah telah diatur para pendiri bangsa AS. "Itulah nilai dasar negara kita," imbuh presiden Afro-Amerika pertama itu. Proyek pembangunan direncanakan beberapa blok dari titik serangan.

Pernyataan disampaikan Presiden Obama sehari setelah memberi dukungannya pada proyek pembangunan masjid dan pusat Islam [baca: Obama Dukung Bangun Masjid di Dekat Ground Zero]. Keputusan itu memicu pro dan kontra. Salah satunya ditentang kelompok "9/11 Families for a Safe and Strong America".

Mereka menuding Presiden Obama tidak sensitif terhadap para keluarga korban serangan 11 September 2001. Dukungan Obama dinilai kabar yang mengejutkan. Keluarga 9/11 untuk Amerika yang Aman dan Kuat menuduh Presiden Obama telah memasung AS di tempat di mana "hati Amerika hancur sembilan tahun lalu dan nilai-nilai kebenarannya dipertontonkan kepada semua orang".

Tak semua korban serangan 11 September 2001 keberatan. Kelompok lain yang juga mewakili keluarga para korban 9/11, "September Eleventh Families for Peaceful Tomorrows" justru mendukung. Mereka menyatakan, mendukung terwujudnya toleransi antaragama karena sejalan dengan nilai-nilai fundamental AS tentang kebebasan dan keadilan untuk semua. Pernyataan mereka diutarakan pada Mei silam.

Dewan Kotapraja New York telah menyetujui rencana pembangunan gedung Manhattan menjadi sebuah pusat peribadatan Muslim. Gedung itu juga menjadi tempat bagi pertukaran antar-kebudayaan yang disebut "Cordoba House" itu.

Presiden Obama mengerti rasa sakit dan penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun dia meminta rakyat Amerika agar selalu ingat siapa lawan dan apa yang diperjuangkan. "Semua itu disebabkan oleh Al Qaida, bukan oleh Islam..." tutur Obama.

Menurut Obama, pada kenyataannya, Al Qaida justru telah membunuh lebih banyak warga Muslim daripada para penganut agama lain. Di antara para korban 9/11 ada warga Muslim yang tak berdosa.

Dalam serangan kelompok Al Qaida terhadap menara kembar "World Trade Center" New York di lokasi Ground Zero sekarang, sedikitnya 3.000 orang tewas.(Ant)

Dikutip dari berita liputan6.com
http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201008/291387/Obama.Tetap.Mendukung.Pembangunan.Masjid

Minggu, 11 Juli 2010

Mukjizat Terbelahnya Bulan

Technorati Tags: ,
  • Judul: Mukjizat Terbelahnya Bulan
  • Sumber: The Moon Cleft Asunder
  • Penulis: Prof. Zaghlul Al-Neggar
  • Artikel oleh: A Learning Page
Anas bin Malik radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan kepada mereka tanda (kekuasaan) Allah. Lalu beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua sehingga mereka melihat celah diantara kedua belahan itu. (HR Bukhari).
Penjelasan Hadits
Peristiwa ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, diantaranya adalah: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan lain-lain. Calender Indian dan Cina telah mencatat peristiwa terbelahnya bulan tersebut.
Beberapa tahun yang lalu, saya memberikan kuliah pada Faculty of Medicine, Cardiff University, di Wales. Seorang Muslim bertanya kepadaku mengenai awal dari surat Al-Qamar, mengenai terbelahnya bulan, dan apakah hal tersebut dipandang sebagai salah satu tanda-tanda sains yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan apakah ada pembuktian ilmiah yang telah ditemukan untuk menjelaskan peristiwa ini.
Jawaban saya adalah bahwa peristiwa ini dipandang sebagai salah satu mukjizat yang paling nyata, yang terjadi untuk mendukung Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditantang oleh kaum musyrikin dan kafir Quraisy, untuk menunjukkan kepada mereka untuk membuktikan bahwa beliau adalah Rasul Allah. Mukjizat terjadi sebagai suatu peristiwa yang tidak biasa yang mematahkan seluruh hukum-hukum alam yang biasa (terjadi). Oleh karena itu, sains konvensional tidak dapat menjelaskan bagaimana mukjizat itu terjadi, dan jika hal itu tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita tidak wajib memeprcayainya. Oleh karena itu, kita percaya bahwa peristiwa terbelahnya bulan terjadi persis seperti perkataan Allah Azza wa Jala yang berfirman:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ وَلَقَدْ جَاءهُم مِّنَ الْأَنبَاء مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (QS Al-Qamar 54] : 1-5)
Ketika saya menyelesaikan perkataanku, seorang laki-laki British diantara para peserta bernama Dawud Musa Pidcock, pemimpin British Muslim Party, meminta kesempatan untuk menambahkan sesuatu terhadap jawabanku. Ia berkata, “Inilah ayat-ayat permulaan surat Al-Qamar yang membuatku memeluk agama Islam di akhir tahun 70an.” Hal ini terjadi ketika ia sedang melakukan penelitian yang luas dalam perbadingan agama, dan salah seorang Muslim memberikan kepadanya mushaf terjemahan Al-Qur’an. Ketika dia membuka mushaf tersebut untuk pertama kalinya, ia mendapati Surat Al-Qamar dan dia membacanya di awal Surat, dan tidak dapat mempercayai bahwa bulan telah terbagi menjadi dua bagian yang berbeda dan kemudian keduanya disatukan kembali, maka dia menutup terjemahan Al-Qur’an tersebut dan menyimpannya.

Pada tahun 1978, Mr. Pidcock atas kehendak Allah menonton sebuah program mengenai perjalanan luar angkasa, dimana penyiar Inggris yang terkenal, James Burke, menerima tiga orang ilmuan antariksa Amerka. Dalam perdebatan itu, penyiar mengkiritk pengeluaran NASA yang berlebih-lebihan (jutaan dolar) untuk proyek antariksa, sementara ada jutaan penduduk bumi yang menderita kelaparan, penyakit dan kebodohan. Jawaban dari ahli antariksa tersebut menegaskan bahwa karena perjalanan antariksa inilah yang memungkin pembangunan teknologi terpan dalam bidang diagnosa dan pengobatan penyakit, industri, pertanian dan banyak bidang lainnya. Dalam debat itu, mereka merujuk pada (peristiwa) pertama kalinya seorang manusia mendarat di permukaan bulan, dan bagaimana perjalanan tersebut menghabiskan dana lebih dari $100 juta dolar. Lebih lanjut ilmuwan tersebut mengatakan bahwa perjalanan ini telah membuktikan sebuah fakta sains, yang jika mereka menghabiskan waktu sebanyak yang telah mereka lakukan utnuk meyakinkan manusia mengenainya, tidak akan ada yang mempercayai mereka. Fakta ini adalah bahwa pada zaman dahulu bulan telah terbelah dan bersatu kembali, ada banyak petunjuk yang nyata di perbukaan bulan untuk membuktikannya. 

Lebih lanjut Mr. Pidcock berkata, “Ketika saya mendengarnya, saya melompat dari kursiku, dan berkata bahwa ini adalah mukjizat yang terjadi seribu empat ratus tahun yang lalu untuk mendukung Muhammad (shallallahu alaihi wasallam), dan Al-Qur’an menerangkannya dengan terperinci. Setelah periode waktu yang lama dan di masa (perkembangan) sains dan teknologi, Allah menggunakan orang-orang (non Muslim) yang menghabiskan semua dana itu hanya untuk membuktikan bahwa mukjizat itu benar terjadi. Maka, saya berkata kepada dirku, ini pasti agama yang benar, dan saya kembali mengambil terjamahan Al-Qur’an tersebut dan membacanya dengan semangat. Ayat-ayat di awal Surat Al-Qamar inilah alasan dibalik masuknya saya ke dalam Islam.
Ini terjadi pada masa dimana sebagian Muslim mengklaim bahwa terpisahnya bulan belum terjadi, dan bahwa itu adalah salah satu dari tanda-tanda hari kiamat seperti yang disebutkan di pembukaan Surat tersebut (Telah dekat datangnya saat itu...). Mereka melupakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Sahl bin Sa’ad t dimana ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا
“Jarak antara diutusnya kau dengan hari kiamat adalah seperti ini” Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Orang-orang yang menolak terjadinya peristiwa terbelahnya bulan itu, menggunakan dalil yang keliru untuk mendukung pendapat mereka, sebagaimana mereka menggunakan Surat Al-Isra:
وَمَا مَنَعَنَا أَن نُّرْسِلَ بِالآيَاتِ إِلاَّ أَن كَذَّبَ بِهَا الأَوَّلُونَ
“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS Al-Israa [17] : 59)
Ayat ini dijadikan sebagai dalil tidak pada tempatnya karena banyak tanda-tanda dan mukjizat yang jelas (nyata) yang terjadi di masa kehidupan Nabi e.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penutup para Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang baginya Allah menjadikan bulan terbelah menjadi dua bagian, sebagai kehormatan baginya dan untuk menaikkan derajatnya dan sebagai pendukung (bukti kebenaran-pent.) risalahnya (diatara kaumnya), dan meninggalkan kita dengan petunjuk yang nyata untuk menunjukkan bahwa peristiwa (terbelahnya bulan) itu benar-benar terjadi.

Sumber: The Treasure in the Sunnah; a Scientific Approach, oleh: Zaghlul El-Neggar, hal. 40-43, Al-Falah Foundation, 2004.

Catatan “A Learning Page”
Terlepas dari kontroversi seputar kebenaran kisah mendaratnya manusia pertama di bulan – yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bualan Amerika, kesesuaian akan fakta sains yang mereka kemukakan dengan peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an serta hadits-hadits dengan derajat mutawatir, telah menjadi hujjah yang kuat dan mendorong seseorang untuk masuk ke dalam Islam.
Berikut ini kami nukilkan bebarapa hadits yang termaktub di dalam Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat pertama Surat Al-Qamar mengenai peristiwa tersebut dari beberapa jalan:

1. Riwayat Anas bin Malik radhiallahu anhu.
Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, ia berkata, “Penduduk Makkah pernah meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam (mengenai) suatu tanda (kekhususan Allah) maka terbelah lah bulan di Makkah (yang terjadi) dua kali. Kemudian beliau membaca: اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” (HR Muslim).
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan kepada mereka tanda (kekuasaan) Allah. Lalu beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua sehingga mereka melihat celah diantara kedua belahan itu.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkannya dari hadits Yunus bin Muhammad al-Mu-addib dari Syaiban dari Qatadah.

2. Riwayat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata, :”Bulan pernah terbelah menjadi dua pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Bakr bin Mudharr dari Ja’far bin Rabi’ah dari Arak dengan lafazh sepertinnya.

3. Riwayat Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, ia berkata, :”Bulan pernah terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga mereka melihatnya, maka beliau bersabda: ‘Saksikanlah!’” Dan demikianlah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Sufyan bin Uyainah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan Abu Abdillah Al-Hafizh memberitahu kami dari Abduulah, ia berkata, “Bulan pernah terbelah di Makkah sehingga menjadi dua bagian lalu orang-orang kafir Quraisy dari kalangan penduduk Makkah berkata, “Ini adalah sihir yang dilakukan terhadap kalian oleh Ibnu Abu Kabsyah. Tunggulah para musafir, jika mereka melihat apa yang kalian lihat, maka yang demikian itu benar adanya, dan jika mereka tidak melihat apa yang kalian lihat, maka yang demikian itu merupakan sihir yang dilakukan terhadap kalian.” Abdullah melanjutkan, “Kemudian para musafir yang datang dari seluruh penjuru ditanya, maka mereka menajawab, ‘Kami melihatnya.’” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Al-Mughirah dan ada tambahannya, yaitu Allah Azza wa Jalla berfirman: اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ (“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”)

Diambil dari blognya:
http://www.khayla.net/2009/01/mukjizatterbelahnya-bulan.html

Jumat, 09 Juli 2010

Rukun Islam

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke email-koe

Dan mereka banyak yang menanyakan masalah yang paling dasar dalam agama Islam seperti Rukun Islam, Rukun Iman, serta apa saja yang menjadi permasalahan pokok agama Islam jaman sekarang.....

Dan untuk memenuhi pertanyaan itu saya jawab satu persatu
Seperti mengenai Rukun Islam (basic) yang harus dijalani :
  1. Mengucapkan 2 kalimah Syahadat
  2. Menjalankan shalat wajib 5 waktu
  3. Berpuasa di bulan Ramadhan
  4. Mengeluarkan zakat
  5. Pergi haji jika mampu
Dan pelaksanaan ini harus dikerjakan dengan kesungguhan kecuali untuk urutan yang no.5 yaitu pergi haji jika mampu (karena pada intinya Islam tidak membebani umat atau penganutnya)

Kamis, 25 Februari 2010

What Islam Is

Dalia Mogahed talks to Gihan Shahine about bridging the gap between the US and the Muslim world.

Dalia Mogahed, director of the US-based Gallup Centre for Muslim Studies, is a member of President Obama's advisory council on Faith Based and Neighbourhood Partnerships. She has organised global research surveys to examine Muslims' beliefs regarding education, religion, democracy, culture, financial prosperity and the media.

Dalia Mogahed is not alone in feeling that following the election of Barack Obama as US president earlier this year, the famous question of "why do they hate us" may no longer be an issue of concern for the millions of Americans commemorating the anniversary of the 9/11 attacks in September.

Something has changed in the White House, and President Obama's election has undoubtedly reflected positively on how Muslims feel towards the United States. This month's commemoration will, in fact, be an occasion for many Muslims to say to citizens of the United States that, contrary to what some people say, "we do not hate you". The commemoration will also be an occasion for moderate Muslim voices like that of Mogahed to be given a platform to tell the Western world that "what you think you know about them [Muslims] is likely wrong -- and that is dangerous."

It is the kind of celebration that President Obama wishes to have. When he announced his "United We Serve" initiative this summer, Obama called on all Americans to participate in their nation's renewal by serving their communities. Thus, from 22 June to 11 September, Americans are being called upon to address community needs in education, health, energy and the environment and community renewal.

"United We Serve is an opportunity for every Muslim-American to be part of a nationwide movement to bring about positive change," Mogahed says. And in order to facilitate this, a group of Muslim-Americans have initiated a national campaign, "United We Serve: Muslim Americans Answer the Call," to encourage Muslim-Americans to answer the call to serve.

"In addition to answering President Obama's important call to help rebuild our communities, 'Answer the Call' also means responding to the millions of Americans in need, especially in the midst of the economic crisis," Mogahed says. "Most importantly, it refers to answering God's call to serve humanity -- to confirm faith with good works -- as the Holy Quran teaches: 'Race one another in good works'." (5:48)

Mogahed insists that Muslim-Americans are already a vital component of US society, but that many (including Muslims themselves) are not aware of all that the community contributes. "Muslim-Americans answer the call to service every day," Mogahed says matter-of- factly. The community's institutions provide free medical care, education, summer programmes, food banks, and homeless shelters for thousands of Americans every year. And on Martin Luther King Day, declared the National Day of Service, Muslim-Americans lead more than 50 service projects across the country.

"The goal this summer is to mobilise a united effort, encourage even more to get involved, and showcase these contributions in a final report to the president," Mogahed told Al-Ahram Weekly in an interview. "As the Quranic verse suggests, service projects are an excellent opportunity for multi-faith cooperation. Our goal for the summer is 1,000 service projects nationally -- at least a quarter of them being multi-faith efforts."
United We Serve: Muslims Americans Answer the Call also does not target any particular ethnic group, ideology, school of thought or political orientation. It is a national movement uniting all in the service of God and community. An enthusiastic Mogahed is positive that the initiative will help to better integrate Muslims into US society. "By participating in the United We Serve initiative, Muslim- Americans can demonstrate to their fellow Americans and to themselves what they are capable of," she says.

"The process of integration requires that the wider public accept a minority group, but it also requires that the minority group sees itself as an active and capable member of the wider community. Participating in this initiative, in fact being at the forefront of this initiative, will help Muslim-Americans grow from feeling on the defensive and being reactive to becoming empowered and proactive, from always telling the world who they are not, to finally getting to tell the world who they are, from declaring what they condemn, to sharing what they contribute."

Yet, despite Mogahed's optimism the picture is perhaps not as bright as she paints it. Muslims around the world have felt wronged and bullied over recent years, and it may be a long way to go before sceptical Muslims rebuild their trust in the United States. Despite Obama's sweeping popularity in majority Muslim nations, some analysts -- some of them in the US -- have complained that while the new president "does not speak" like his predecessor, he "tends to act" like him. In fact, Obama may have brought only cosmetic changes to US policy towards the Muslim world.

Little has changed on the ground, critics say. Anti-terrorism laws have hardly changed, and the notorious US detention camp in Guantanamo Bay in Cuba has still not been closed. Instead, the US has been sending more troops to Afghanistan and has expanded the country's detention facility at Bagram to accommodate 200-plus more detainees. Many worldwide are still mourning the thousands killed, and being killed, in Palestine, Iraq, Somalia, Pakistan and Afghanistan.

Indeed, there is something of a consensus among Arab analysts that Obama's empathetic and eloquent Cairo speech did not amount to a break with the American policies that have created the deep divide between the US and the Muslim world since 9/11. Citizens of Muslim nations tend to agree that without a resolution to the Palestinian-Israeli conflict, Obama's reiterated messages of goodwill will not achieve their target of forging a new beginning in the US's strained relations with the Muslim and Arab worlds.

Yet, despite these difficulties Mogahed is still optimistic. She insists that although "much still needs to be changed from the point of view of many Americans, Muslims, Christians and Jews, there is a lot that has been changed, and Muslim- Americans do not believe that Obama is like Bush."

During the last two months of the Bush administration, Bush's approval rating among Muslim-Americans was only seven per cent, the lowest in any faith community. By contrast, the approval rating of Obama in his first 100 days in office among Muslim-Americans was 85 per cent, the highest in any faith community. "So by no means do Muslim-Americans think that there is no difference between the two," she notes. "In fact, no group feels as big a difference between Bush and Obama as Muslim-Americans do."
"While many problems still need to be addressed, there are important positive changes," she continues. Today, she says, Muslim-Americans are integrated into every aspect of the administration's agenda, not just traditional "Muslim issues".

"For example, when the president signed a bill to help reduce the use of tobacco, Muslims were among the leaders invited to witness the signature in the White House," Mogahed points out. "When the president hosted a town-hall meeting on the importance of fatherhood, Muslim leaders were among those present. When the president signed a bill to ban all forms of torture, a coalition of faith leaders, including Muslims, was there to see it happen."

Mogahed adds that members of the administration are also much more accessible to the Muslim community than they were during the Bush administration. "One simple example is that of Valerie Jarrett, one of Obama's closest advisors and most senior officials, who addressed the annual convention of the Islamic Society of North America over the 4th of July weekend. She was the first White House official in history to address it."
Moreover, Mogahed continues, some of the issues that Muslim-Americans are concerned about, such as the problems facing Muslim charities, are being actively worked on by leaders in the administration as part of the follow up to Obama's Cairo speech.

It is still, however, possible to feel that despite Obama's manifestation of respect for Islam and Muslims in his Cairo speech, the first ever to quote verses from the Quran, the administration's initiatives have thus far failed to change the negative images of Islam in the US media. According to Gallup, nothing has done more harm to the image of Muslims than negative US TV news coverage of Islam. Indeed, Gallup research has found that "Americans are bombarded every day with news stories about Muslims and majority- Muslim countries in which vocal extremists, not evidence, drive perceptions."

Mogahed agrees that today "very little has changed as far as the American public's attitudes towards Islam and Muslims are concerned." According to Gallup research, in 2007, 19 per cent of Americans said they had "a great deal of prejudice" against Muslims. In 2009, this figure was 14 per cent, only a slight decrease, but at least one heading in the right direction. "It may just take more time for public opinion to catch up with the president's new approach," Mogahed comments.
Yet, changing public opinion about Islam may not be an easy task, if Gallup figures are anything to go by. According to polls, the majority of Americans (66 per cent) admit to having at least some prejudice against Muslims. Almost half do not believe American Muslims are "loyal" to the US, and one in four does not want a Muslim as a neighbour.

Such alarming figures may explain why hate crimes against Muslims persist. Only a few months ago, Ali Mohamed, the imam of a mosque in California, was burnt to death when a group set his house on fire after harassing him for being a "Muslim terrorist". Elsewhere, the Al-Azhar envoy to the Islamic Centre in London, Mohamed El-Salamony, was beaten by an attacker only six months after starting his mission, eventually losing his sight. The recent murder of Marwa El-Sherbini at the hands of a Russian- German extremist in a court in Germany has similarly been seen as proof of Western prejudices against Islam.

Mogahed, however, contends that El-Sherbini's murder, though "a horrific crime", is one that "should be seen as a symptom of a deeper problem of prejudice in Germany" and not necessarily in the West as a whole. Moreover, she says, El-Sherbini's murder does not necessarily indicate a rise in prejudice against Islam since, according to Gallup, Islamophobia in general has either been stable or is on the decline.

Mogahed speculates that "crimes against Muslims may just be getting greater attention than before, due to the new focus on better relations brought about by Obama's Cairo speech." She adds that Western stereotyping of veiled or bearded Muslims as "terrorists" may also be changing, pointing to "President Obama's positive reference to the hijab several times in his Cairo address" as testimony of this.

Mogahed herself is a veiled Egyptian- American citizen, and she sees herself as being the product of a fair system that has allowed her to make her way all the way to the White House. Mogahed feels that too often Easterners do not see the positive aspects of Western societies in the right light, tending instead to see only the contradiction in Western policies towards Muslims as a reflection of "the best and worst in human nature."
"All societies, and in fact all individuals, are capable of justice and compassion and also of oppression and cruelty," she says. "This contradiction is a contradiction of being human, of having free will and of being capable of both good and evil. Just as there are extremists in the West, there are also principles of equality. Just as there is racism among some in the West, there is also reason and systems based on merit. The West is not monolithic, just as Muslim societies are not monolithic. It is as difficult to stereotype America as it is to stereotype Egypt or Muslims around the world. Every community, and indeed every individual, has both good and evil within them."

Such is in essence the message that Mogahed has tried to convey through her organisation's "Who Speaks for Islam?" initiative. Starting in 2001, Gallup embarked on the largest, most comprehensive survey of its kind, spending more than six years polling a population that represented more than 90 per cent of the world's estimated 1.3 billion Muslims.

"The results showed plainly that much of the conventional wisdom about Muslims -- views touted by US policymakers and pundits and accepted by voters -- is simply false," the study found, revealing that American ignorance of Islam is a "fatal flaw", and that "anti-Muslim sentiment fuels misinformation, and is fuelled by it -- misinformation that is squarely contradicted by evidence."

Many Americans, for instance, charge that Islam encourages violence more than other faiths, but studies show that Muslims around the world are at least as likely as Americans to condemn attacks on civilians. Polls show that six per cent of the American public thinks attacks in which civilians are targets are "completely justified". In Lebanon and Iran, this figure is much lower at two per cent.

Moreover, "it is politics, not piety or poverty, that drives the small minority -- just seven per cent -- of Muslims to anti- Americanism at the level of condoning the attacks of 9/11," the study said. According to the study, not a single respondent who condoned the attacks used the Quran as justification. "Instead, they relied on political rationalisations, calling the US an imperialist power or accusing it of wanting to control the world," concluded the study.

Gallup also found there was a gap in understanding the nature of the conflict between the US and the Muslim world. According to its research, 80 per cent of Americans believe that people in Muslim countries have an unfavourable view of the United States.

Asked if they believe Muslims' negative opinion of the US was due to the actual actions of the United States, or misinformation about America propagated by the media and leaders in Muslim countries, the majority (64 per cent) chose the latter. In other words, only a minority (19 per cent) believes that to improve relations the US needs to change its actual policies. This perception stands in sharp contrast to that of Muslim populations.
"Muslims are angry primarily at America's policy decisions in regard to the acute conflicts in Afghanistan, Israel and Iraq, and to its perceived lack of support for Muslim self- determination, as well as what they see as America's disrespect for Muslims and Islam," Mogahed comments, adding that "President Obama is attempting to address all of these issues."

But Muslims themselves also need to exert more effort to correct misconceptions about Islam. For instance, Gallup found that 72 per cent of Americans disagreed with the statement that "the majority of those living in Muslim countries think men and women should have equal rights." In fact, majorities in even some of the most conservative Muslim societies refute this assessment: 73 per cent of Saudis, 89 per cent of Iranians and 94 per cent of Indonesians say that men and women should have equal legal rights.

Majorities of Muslim men and women in dozens of countries around the world also believe that a woman should have the right to work outside the home in any job for which she is qualified (88 per cent in Indonesia, 72 per cent in Egypt and 78 per cent in Saudi Arabia), and to vote without interference from family members (87 per cent in Indonesia, 91 per cent in Egypt and 98 per cent in Lebanon).

It remains questionable, however, who should speak for Islam in order to refute such misconceptions. Should it be the formal seat of Sunni learning, Al-Azhar University in Cairo, or should it be independent preachers, international Islamic organisations, the Shias, or even the outlawed Muslim Brotherhood?

According to Gallup, "rather than letting vocal extremists define the discourse, we should listen to the voices of ordinary people and thus let facts, not fear, shape our global engagement."

Mogahed also argues that "Muslims must live their faith as a collective. Muslim scholars at Al-Azhar are important guardians of Islam's intellectual heritage and teachers of the tradition, but if the masses don't reflect the lofty ideals the scholars claim for Islam, the faith will always seem at best a theory instead of a force for progress in the world. Today, we see people either doing bad things claiming they are acting in the name of Islam, or people, usually scholars, saying nice things and claiming that they are speaking for Islam."

"What is missing is more people doing good things claiming they are acting in the name of Islam. In other words, it really is up to ordinary people at this point, not scholars or celebrities, to show the world what Islam is by countering every bad action done in the name of Islam with many more good actions in the name of the same faith. I believe that Muslims already do this every day, but the human side of Muslim societies, the compassion, the sacrifice and simple dignity of ordinary Muslims around the world, is rarely seen."

"However, it will be up to them to solve this problem. If Muslims want to change the negative image of Islam they need to show, not just tell, what Islam is," Mogahed says.

Link from :
http://www.israinternational.com/latest-news/218-what-islam-is.html












zwani.com myspace graphic comments

ANDA INGIN SUKSES ?
IKUTI LANGKAHNYA

Rabu, 03 Februari 2010

Masuk Islam karena suara adzan

Ini kisah menarik tentang mualaf dan patut disimak


Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu Muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang kami rangkum dari beberapa situs.

“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.

“Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang Muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling

Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara Muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan masjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan Muslim, dilarang masuk ke dalam masjid,“ katanya.

“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.

Tertarik bahasa Arab

“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris
dan Jerman.

Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.

Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan Muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Al-Quran


Ada juga beberapa warga Muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang Muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. “Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan Muslim,” kenangnya.

“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.

Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang disebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan Muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.

Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. “Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.

Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).

Saya bertanya kepada kawan-kawan Muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”

Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang. Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”

Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Setiap hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang Muslim.

Debar aneh

Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman Muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“

“Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang Muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.

Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.

Bersyahadah


Tatiana memberitahukan rekan Muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Seperti kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.

Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.

“Contekan” shalat

“Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya dengan sangat senangnya.

“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya. “Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.

Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. 
“Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya.

Diambil dari kisah yang ada di (Hidayatullah.com)








Jumat, 15 Januari 2010

Islam Rahmatan Lil Allaamin

Iqro = Bacalah

Menebar kedamaian dan menggapai kehidupan yang mapan

Didunia yang serba cepat berubah beberapa kalangan moslem melakukan penyesuaian dan pengkajian dalam membangun sisi kehidupan, terutama dalam segi spiritual. Disisi lain orang yang iri hati dan dengki dunia Islam melakukan penodaan serta penistaan dengan membuat kontent yang berisikan hal-hal bersifat Islami tapi justru merusak dan meracuni orang-orang yang belum memahami apa arti itu Islam.

Dalam menghadapi tantangan jaman para pemikir Islam dan ahli agama Islam, dan para sufi yang mengangkat nilai-nilai spiritual Islam menghadapi ujian yang berat agar para pencari fakta dan data mengenai apa, mengapa, dan bagaimana Islam itu jelas dan tidak memihak. Karena dasarnya Islam itu indah karena keindahan yang diberikan oleh Allah adalah sebagai pembawa berkah. Sesuai dengan janji Allah Al-Qur'an akan dijaga sepanjang jaman masih saja ada manusia-manusia rendah yang merendahkan Allah dan Rasullulah dengan tulisan dan data yang tidak ada referensinya, mereka memutar balikkan fakta dan seolah-olah saya katakan sekali lagi seolah-olah mereka menulis yang sebenarnya.