SINOPSIS

Tujuan blog ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, Blog ini mudah-mudahan dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Blog ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaan dan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.








More Bismillah Comments



Content this BLOG


Kamis, 25 Februari 2010

Tengoklah ke "dalam" sebelum BICARA

Assalamualaikum wahai teman, kerabat dan sahabat

Ada sebuah kisah kecil, ketika masih aktif bersama teman-teman di organisasi remaja masjid kampung. Namun kisah kecil ini telah menjadi "prasasti" indah dalam kehidupan saya sampai sekarang.

Waktu itu kami sedang giat-giatnya menggelar usaha keagamaan dan merangkul para remaja agar giat dibidang dakwah. Tiba-tiba di belakang masjid kami, salah seorang warga membuka rumahnya untuk dijadikan tempat judi togel (yang orang tua pasti tahu apa yang nama judi buntut).

Setiap malam orang-orang selalu ramai berkumpul di situ. Karena dari pihak desa, juga para perangkatnya tidak ada reaksi apa-apa terhadap judi itu, maka kami bersepakat untuk negosiasi dengan warga itu. Agar kegiatan yang banyak merugikan masyarakat itu dihentikan saja.

Dengan semangat, kami bersepakat untuk mendatangi tempat tersebut, bahkan dengan nada yang penuh amarah. Namun sebelum berangkat, ada salah satu senior kami yang mengingatkan. Ia berkata pada kami. "Ini kerja besar.Ini perjuangan berat. Jangan gegabah kita melangkah. Kita harus lebih siap lagi untuk maju ke medan "jihad" ini. Ada sesuatu yang harus kita laksanakan dulu sebelum kita maju kesana."

Senior kami itu menyarankan agar kami mengoreksi diri dulu. Sudah sejauh mana ibadah harian kita kepada Allah SWT. Sudah sejauh mana komitmen kita terhadap apa yang diperintahNya dan apa yang dilarangNya sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an .

Ahirnya, selama beberapa hari, kami disarankan untuk sebisa mungkin sholat wajib berjamaah. Kita juga harus bangun malam untuk qiamullail. Yang biasanya jarang puasa Senin Kamis, sekarang amalan Nabi Muhammad itu harus dilaksanakan dengan intensif.

Pokoknya, senior kami itu menyarankan agar sebisa mungkin mengaplikasikan bentuk ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Tidak hanya bentuk "amar ma'ruf" saja, tapi mesti diiringi juga dengan "nahi mungkar." Seperti yang masih merokok untuk segera meninggalkan perbuatan mubah itu.

Beberapa hari kemudian, saat hari 'H' sudah tiba, kami berkumpul lagi. Namun kami tidak jadi menemui bandar togel itu. Sebab, dengan izin Allah, orang itu sudah menutup total usahanya. Rupanya ia sudah kembali berprofesi seperti biasa, yaitu sebagai kuli bangunan. Kami merasa gembira sekali. Dan semua ini sudah jelas merupakan pertolongan dariNya. Entah apa yang terjadi seandainya kami menyikapi perbuatan salah seorang warga di dekat masjid itu dengan emosional pada waktu itu, tanpa mengindahkan nasehat senior kami.

Apakah ini sebuah kemenangan sebelum bertanding? Tidak juga. Sebab kami telah berjuang dulu, berjuang menaklukan napsu diri. Bukankah ini juga merupakan yang namanya jihad besar?

Pantas, jika sahabat Umar ra. sebelum berangkat perang dengan orang kafir, selalu memeriksa pasukannya sedetil mungkin. Mereka yang malamnya tidak qiamullail, sementara jangan ikut ke medan jihad dulu. Kata Khalifah kedua itu: "Saya tidak takut dengan musuh yang banyak, tapi saya lebih takut kepada banyaknya dosa yang kita bawa. Sehingga kita akan kesulitan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT."

Dan sejarah juga mencatat gemilangnya perang Badar bagi kaum muslimin. Padahal erbandingan jumlah pasukan antara kaum muslimin dan kafir sama sekali tidak seimbang. Tentu sudah bisa dipastikan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum muslimin adalah karena kwalitas iman orang muslim masa itu yang sangat prima. Dan tentunya sangat minim dengan dosa-dosa. Tidak seperti kami di jaman ini.

Saya hanya bisa berpikir, seandainya saya, keluarga saya, lingkungan saya, atau skup yang lebih luas lagi negri saya, dalam mengatasi masalah berkiblat dengan cara mereka, mungkin Allah pun akan memberi kemudahan dalam mengatasi berbagai masalah.

Ya, tentunya harus dimulai dari pribadi masing-masing. Sebab tak mustahil, bahwa saya, kita-kita inipun ternyata ada dalam barisan orang-orang yang menghambat pertolongan Allah (percaya nggak kalau saya katakan demikian).

Sampai sekarang pesan senior kami di organisasi remaja masjid bertahun-tahun lalu itu, selalu terngiang ditelinga saya, manakala ada sesuatu pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang banyak. Pesan yang pendek, namun sangat berarti: "Bacalah dirimu! Sebelum kau baca orang lain!"

Atau dalam bahasa populer penyanyi ballada Ebiet G Ade:

"Tengoklah ke 'dalam', sebelum bicara."

Salam ukhuwah para jamaah, semoga kita selalu mendapat berkah

Tulisan ini saya tulis juga di:
http://filsafat.kompasiana.com/2010/02/25/tengoklah-ke-dalam-sebelum-bicara/

What Islam Is

Dalia Mogahed talks to Gihan Shahine about bridging the gap between the US and the Muslim world.

Dalia Mogahed, director of the US-based Gallup Centre for Muslim Studies, is a member of President Obama's advisory council on Faith Based and Neighbourhood Partnerships. She has organised global research surveys to examine Muslims' beliefs regarding education, religion, democracy, culture, financial prosperity and the media.

Dalia Mogahed is not alone in feeling that following the election of Barack Obama as US president earlier this year, the famous question of "why do they hate us" may no longer be an issue of concern for the millions of Americans commemorating the anniversary of the 9/11 attacks in September.

Something has changed in the White House, and President Obama's election has undoubtedly reflected positively on how Muslims feel towards the United States. This month's commemoration will, in fact, be an occasion for many Muslims to say to citizens of the United States that, contrary to what some people say, "we do not hate you". The commemoration will also be an occasion for moderate Muslim voices like that of Mogahed to be given a platform to tell the Western world that "what you think you know about them [Muslims] is likely wrong -- and that is dangerous."

It is the kind of celebration that President Obama wishes to have. When he announced his "United We Serve" initiative this summer, Obama called on all Americans to participate in their nation's renewal by serving their communities. Thus, from 22 June to 11 September, Americans are being called upon to address community needs in education, health, energy and the environment and community renewal.

"United We Serve is an opportunity for every Muslim-American to be part of a nationwide movement to bring about positive change," Mogahed says. And in order to facilitate this, a group of Muslim-Americans have initiated a national campaign, "United We Serve: Muslim Americans Answer the Call," to encourage Muslim-Americans to answer the call to serve.

"In addition to answering President Obama's important call to help rebuild our communities, 'Answer the Call' also means responding to the millions of Americans in need, especially in the midst of the economic crisis," Mogahed says. "Most importantly, it refers to answering God's call to serve humanity -- to confirm faith with good works -- as the Holy Quran teaches: 'Race one another in good works'." (5:48)

Mogahed insists that Muslim-Americans are already a vital component of US society, but that many (including Muslims themselves) are not aware of all that the community contributes. "Muslim-Americans answer the call to service every day," Mogahed says matter-of- factly. The community's institutions provide free medical care, education, summer programmes, food banks, and homeless shelters for thousands of Americans every year. And on Martin Luther King Day, declared the National Day of Service, Muslim-Americans lead more than 50 service projects across the country.

"The goal this summer is to mobilise a united effort, encourage even more to get involved, and showcase these contributions in a final report to the president," Mogahed told Al-Ahram Weekly in an interview. "As the Quranic verse suggests, service projects are an excellent opportunity for multi-faith cooperation. Our goal for the summer is 1,000 service projects nationally -- at least a quarter of them being multi-faith efforts."
United We Serve: Muslims Americans Answer the Call also does not target any particular ethnic group, ideology, school of thought or political orientation. It is a national movement uniting all in the service of God and community. An enthusiastic Mogahed is positive that the initiative will help to better integrate Muslims into US society. "By participating in the United We Serve initiative, Muslim- Americans can demonstrate to their fellow Americans and to themselves what they are capable of," she says.

"The process of integration requires that the wider public accept a minority group, but it also requires that the minority group sees itself as an active and capable member of the wider community. Participating in this initiative, in fact being at the forefront of this initiative, will help Muslim-Americans grow from feeling on the defensive and being reactive to becoming empowered and proactive, from always telling the world who they are not, to finally getting to tell the world who they are, from declaring what they condemn, to sharing what they contribute."

Yet, despite Mogahed's optimism the picture is perhaps not as bright as she paints it. Muslims around the world have felt wronged and bullied over recent years, and it may be a long way to go before sceptical Muslims rebuild their trust in the United States. Despite Obama's sweeping popularity in majority Muslim nations, some analysts -- some of them in the US -- have complained that while the new president "does not speak" like his predecessor, he "tends to act" like him. In fact, Obama may have brought only cosmetic changes to US policy towards the Muslim world.

Little has changed on the ground, critics say. Anti-terrorism laws have hardly changed, and the notorious US detention camp in Guantanamo Bay in Cuba has still not been closed. Instead, the US has been sending more troops to Afghanistan and has expanded the country's detention facility at Bagram to accommodate 200-plus more detainees. Many worldwide are still mourning the thousands killed, and being killed, in Palestine, Iraq, Somalia, Pakistan and Afghanistan.

Indeed, there is something of a consensus among Arab analysts that Obama's empathetic and eloquent Cairo speech did not amount to a break with the American policies that have created the deep divide between the US and the Muslim world since 9/11. Citizens of Muslim nations tend to agree that without a resolution to the Palestinian-Israeli conflict, Obama's reiterated messages of goodwill will not achieve their target of forging a new beginning in the US's strained relations with the Muslim and Arab worlds.

Yet, despite these difficulties Mogahed is still optimistic. She insists that although "much still needs to be changed from the point of view of many Americans, Muslims, Christians and Jews, there is a lot that has been changed, and Muslim- Americans do not believe that Obama is like Bush."

During the last two months of the Bush administration, Bush's approval rating among Muslim-Americans was only seven per cent, the lowest in any faith community. By contrast, the approval rating of Obama in his first 100 days in office among Muslim-Americans was 85 per cent, the highest in any faith community. "So by no means do Muslim-Americans think that there is no difference between the two," she notes. "In fact, no group feels as big a difference between Bush and Obama as Muslim-Americans do."
"While many problems still need to be addressed, there are important positive changes," she continues. Today, she says, Muslim-Americans are integrated into every aspect of the administration's agenda, not just traditional "Muslim issues".

"For example, when the president signed a bill to help reduce the use of tobacco, Muslims were among the leaders invited to witness the signature in the White House," Mogahed points out. "When the president hosted a town-hall meeting on the importance of fatherhood, Muslim leaders were among those present. When the president signed a bill to ban all forms of torture, a coalition of faith leaders, including Muslims, was there to see it happen."

Mogahed adds that members of the administration are also much more accessible to the Muslim community than they were during the Bush administration. "One simple example is that of Valerie Jarrett, one of Obama's closest advisors and most senior officials, who addressed the annual convention of the Islamic Society of North America over the 4th of July weekend. She was the first White House official in history to address it."
Moreover, Mogahed continues, some of the issues that Muslim-Americans are concerned about, such as the problems facing Muslim charities, are being actively worked on by leaders in the administration as part of the follow up to Obama's Cairo speech.

It is still, however, possible to feel that despite Obama's manifestation of respect for Islam and Muslims in his Cairo speech, the first ever to quote verses from the Quran, the administration's initiatives have thus far failed to change the negative images of Islam in the US media. According to Gallup, nothing has done more harm to the image of Muslims than negative US TV news coverage of Islam. Indeed, Gallup research has found that "Americans are bombarded every day with news stories about Muslims and majority- Muslim countries in which vocal extremists, not evidence, drive perceptions."

Mogahed agrees that today "very little has changed as far as the American public's attitudes towards Islam and Muslims are concerned." According to Gallup research, in 2007, 19 per cent of Americans said they had "a great deal of prejudice" against Muslims. In 2009, this figure was 14 per cent, only a slight decrease, but at least one heading in the right direction. "It may just take more time for public opinion to catch up with the president's new approach," Mogahed comments.
Yet, changing public opinion about Islam may not be an easy task, if Gallup figures are anything to go by. According to polls, the majority of Americans (66 per cent) admit to having at least some prejudice against Muslims. Almost half do not believe American Muslims are "loyal" to the US, and one in four does not want a Muslim as a neighbour.

Such alarming figures may explain why hate crimes against Muslims persist. Only a few months ago, Ali Mohamed, the imam of a mosque in California, was burnt to death when a group set his house on fire after harassing him for being a "Muslim terrorist". Elsewhere, the Al-Azhar envoy to the Islamic Centre in London, Mohamed El-Salamony, was beaten by an attacker only six months after starting his mission, eventually losing his sight. The recent murder of Marwa El-Sherbini at the hands of a Russian- German extremist in a court in Germany has similarly been seen as proof of Western prejudices against Islam.

Mogahed, however, contends that El-Sherbini's murder, though "a horrific crime", is one that "should be seen as a symptom of a deeper problem of prejudice in Germany" and not necessarily in the West as a whole. Moreover, she says, El-Sherbini's murder does not necessarily indicate a rise in prejudice against Islam since, according to Gallup, Islamophobia in general has either been stable or is on the decline.

Mogahed speculates that "crimes against Muslims may just be getting greater attention than before, due to the new focus on better relations brought about by Obama's Cairo speech." She adds that Western stereotyping of veiled or bearded Muslims as "terrorists" may also be changing, pointing to "President Obama's positive reference to the hijab several times in his Cairo address" as testimony of this.

Mogahed herself is a veiled Egyptian- American citizen, and she sees herself as being the product of a fair system that has allowed her to make her way all the way to the White House. Mogahed feels that too often Easterners do not see the positive aspects of Western societies in the right light, tending instead to see only the contradiction in Western policies towards Muslims as a reflection of "the best and worst in human nature."
"All societies, and in fact all individuals, are capable of justice and compassion and also of oppression and cruelty," she says. "This contradiction is a contradiction of being human, of having free will and of being capable of both good and evil. Just as there are extremists in the West, there are also principles of equality. Just as there is racism among some in the West, there is also reason and systems based on merit. The West is not monolithic, just as Muslim societies are not monolithic. It is as difficult to stereotype America as it is to stereotype Egypt or Muslims around the world. Every community, and indeed every individual, has both good and evil within them."

Such is in essence the message that Mogahed has tried to convey through her organisation's "Who Speaks for Islam?" initiative. Starting in 2001, Gallup embarked on the largest, most comprehensive survey of its kind, spending more than six years polling a population that represented more than 90 per cent of the world's estimated 1.3 billion Muslims.

"The results showed plainly that much of the conventional wisdom about Muslims -- views touted by US policymakers and pundits and accepted by voters -- is simply false," the study found, revealing that American ignorance of Islam is a "fatal flaw", and that "anti-Muslim sentiment fuels misinformation, and is fuelled by it -- misinformation that is squarely contradicted by evidence."

Many Americans, for instance, charge that Islam encourages violence more than other faiths, but studies show that Muslims around the world are at least as likely as Americans to condemn attacks on civilians. Polls show that six per cent of the American public thinks attacks in which civilians are targets are "completely justified". In Lebanon and Iran, this figure is much lower at two per cent.

Moreover, "it is politics, not piety or poverty, that drives the small minority -- just seven per cent -- of Muslims to anti- Americanism at the level of condoning the attacks of 9/11," the study said. According to the study, not a single respondent who condoned the attacks used the Quran as justification. "Instead, they relied on political rationalisations, calling the US an imperialist power or accusing it of wanting to control the world," concluded the study.

Gallup also found there was a gap in understanding the nature of the conflict between the US and the Muslim world. According to its research, 80 per cent of Americans believe that people in Muslim countries have an unfavourable view of the United States.

Asked if they believe Muslims' negative opinion of the US was due to the actual actions of the United States, or misinformation about America propagated by the media and leaders in Muslim countries, the majority (64 per cent) chose the latter. In other words, only a minority (19 per cent) believes that to improve relations the US needs to change its actual policies. This perception stands in sharp contrast to that of Muslim populations.
"Muslims are angry primarily at America's policy decisions in regard to the acute conflicts in Afghanistan, Israel and Iraq, and to its perceived lack of support for Muslim self- determination, as well as what they see as America's disrespect for Muslims and Islam," Mogahed comments, adding that "President Obama is attempting to address all of these issues."

But Muslims themselves also need to exert more effort to correct misconceptions about Islam. For instance, Gallup found that 72 per cent of Americans disagreed with the statement that "the majority of those living in Muslim countries think men and women should have equal rights." In fact, majorities in even some of the most conservative Muslim societies refute this assessment: 73 per cent of Saudis, 89 per cent of Iranians and 94 per cent of Indonesians say that men and women should have equal legal rights.

Majorities of Muslim men and women in dozens of countries around the world also believe that a woman should have the right to work outside the home in any job for which she is qualified (88 per cent in Indonesia, 72 per cent in Egypt and 78 per cent in Saudi Arabia), and to vote without interference from family members (87 per cent in Indonesia, 91 per cent in Egypt and 98 per cent in Lebanon).

It remains questionable, however, who should speak for Islam in order to refute such misconceptions. Should it be the formal seat of Sunni learning, Al-Azhar University in Cairo, or should it be independent preachers, international Islamic organisations, the Shias, or even the outlawed Muslim Brotherhood?

According to Gallup, "rather than letting vocal extremists define the discourse, we should listen to the voices of ordinary people and thus let facts, not fear, shape our global engagement."

Mogahed also argues that "Muslims must live their faith as a collective. Muslim scholars at Al-Azhar are important guardians of Islam's intellectual heritage and teachers of the tradition, but if the masses don't reflect the lofty ideals the scholars claim for Islam, the faith will always seem at best a theory instead of a force for progress in the world. Today, we see people either doing bad things claiming they are acting in the name of Islam, or people, usually scholars, saying nice things and claiming that they are speaking for Islam."

"What is missing is more people doing good things claiming they are acting in the name of Islam. In other words, it really is up to ordinary people at this point, not scholars or celebrities, to show the world what Islam is by countering every bad action done in the name of Islam with many more good actions in the name of the same faith. I believe that Muslims already do this every day, but the human side of Muslim societies, the compassion, the sacrifice and simple dignity of ordinary Muslims around the world, is rarely seen."

"However, it will be up to them to solve this problem. If Muslims want to change the negative image of Islam they need to show, not just tell, what Islam is," Mogahed says.

Link from :
http://www.israinternational.com/latest-news/218-what-islam-is.html












zwani.com myspace graphic comments

ANDA INGIN SUKSES ?
IKUTI LANGKAHNYA

What is the mean of ISRA?

What is ISRA?

ISRA is a movement that began in the United States. It is working to revive the totality of deen. It is founded on the affirmation that Allah (swt) is One, Muhammad (saws) is His final Prophet and the religion of Islam has three dimensions: Islam, Iman and Ihsaan. It promotes the love of Allah (swt) and the love of Rasool Allah (saws) as ways of purifying one's heart from other than Allah.

Selasa, 23 Februari 2010

Sebelum Semuanya Berlalu

Teman ini ada kejadian yang mungkin bisa diambil hikmahnya.

Inti dari kejadian ini adalah jangan pernah yang namanya menunda kebaikan apalagi perintah Allah SWT
Suatu siang di sudut Jakarta. Puluhan orang berkumpul di sebuah mushalla yang tidak begitu besar. Seusai melakukan shalat Zuhur, mereka bersiap-siap melaksanakan shalat jenazah.

Sebelum shalat jenazah dimulai, imam shalat berkata, ”Para jamaah sekalian, hari ini kita akan menyalatkan salah seorang kawan kita, Si Fulan (nggak perlu disebutkan namanya). Kemarin dia mandi sendiri, namun hari ini harus dimandikan. Kemarin dia memakai pakaian sendiri, namun hari ini harus dipakaikan/dikafani. Biasanya dia shalat sendiri, namun hari ini harus kita shalatkan. Sebelumnya, dia bisa bepergian ke mana-mana sendiri, tetapi hari ini ia harus kita gotong dan antarkan ke liang kubur.”
Alangkah cepat semuanya berlalu dan betapa tidak terduga datangnya maut. Karena itu, Nabi kita mengingatkan setiap Muslim agar jangan lalai (artinya selalu waspada). Beliau bersadba, ”Jagalah lima perkara, sebelum datang yang lima. Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, mudamu sebelum tuamu, kayamu sebelum miskinmu, dan lapangmu sebelum sempitmu.”

Sudah jadi tabiat dan kebiasaan manusia mudah mengabaikan apa-apa yang ada di tangannya. Nikmat sehat baru terasa ketika satu saja anggota tubuh ada yang sakit. Nikmat masa muda baru terasa nilainya tatkala anggota fisik sudah tak berdaya. Nikmat umur dan hidup baru terasa sangat berharga manakala malaikat maut datang menjemput.

Padahal, kata Quraish Shihab (salah satu ulama kita) saat menulis pengantar bukunya, Perjalanan Menuju Keabadian, utusan-utusan malaikat maut datang jauh sebelum datangnya malaikat maut itu sendiri. Misalnya penyakit, uban, serta berkurangnya ketajaman pendengaran, dan penglihatan.

Setiap Muslim harus senantiasa waspada, menjaga hari ini dan waktu yang dipunyainya sebelum semuanya hilang tanpa pernah kembali. Seperti kata seorang penyair, ”Hari yang telah berlalu tak ‘kan pernah lagi kujumpai. Walaupun aku bertemu hari ini, namun semuanya tak pernah sama lagi.”

Berkaitan dengan itu, nabi pernah mengajarkan kepada Muadz bin Jabal sebuah doa yang sangat indah. ”Ya Muadz, sehabis shalat jangan tinggalkan ucapan, ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat Engkau dan banyak bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” disalin dan diambil dari (HR An-Nasaa’i dan Abu Dawud) Wallahu a’lam.

Senin, 22 Februari 2010

Mengartikan Cinta

Tahukah anda apa arti cinta

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Kata cinta sendiri sebenaranya memiliki makna yang luas dan para pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit, antara lain:

Cinta terhadap keluarga
Cinta terhadap teman-teman, atau philia
Cinta yang romantis atau juga disebut asmara
Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros
Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme
Cinta akan sebuah konsep tertentu
Cinta akan negaranya atau patriotisme
Cinta akan bangsa atau nasionalisme
Cinta kepada Tuhan

Sekedar membatasi pembicaraan, yang sedang dibicarakan cinta di sini adalah hubungan antarpribadi lawan jenis. Untuk memudahkan menerka makna cinta antarpribadi, ada baiknya kita mengenal unsure cinta antarpribadi ini. Cinta antarpribadi ini mempunyai beberapa unsure antara lain:

Afeksi: penghargaan kepada orang lain.
Kedekatan: pemuasan kebutuhan emosional dasar.
Altruisme: memperhatikan orang lain dan kebutuhannya daripada diri sendiri.
Resiprokasi: tak bertepuk sebelah tangan.
Komitmen: gairah untuk menjaga cinta.
Keintiman emosional: berbagi emosi dan perasaan.
Kekeluargaan: ikatan family.
Syahwat: gairah seksual.
Keintiman fisik: berbagi kedekatan daerah-daerah intim pribadi.
Kepentingan pribadi: kebutuhan akan penghargaan.
Pelayanan: keinginan untuk membantu.

Tentu masih ada banyak teori lain tentang cinta selain sekedar mengemukakan unsur-unsur cinta di atas. Setiap kebudayaan dapat mempunyai pendekatan yang berbeda untuk memaknai cinta. Bahkan dalam satu kebudayaan mungkin ada beberapa pendekatan untuk memaknai cinta. Pada dasarnya cinta merupakan konsep yang abstrak, lebih mudah untuk mengalaminya daripada menerangkannya.
Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Dalam Islam ada seorang ulama yang bernama Ibnu Qayyim menerangkan cinta ini dalam bukunya yang terkenal, Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin. Ibnu Qayyim sendiri mendata 50 istilah berkaitan dengan cinta. Katanya, “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia.”
Kata teratas yang ditempatkan oleh Ibnu Qayyim sebagai kata yang berhubungan dengan cinta adalah al-Mahabbah. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari al-habab, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-habbu, yaitu inti sesuatu.

Dari istilahnya, al-Mahabbah tidak berbeda; mempunyai definisi yang banyak. Sebagian artinya adalah sebagai berikut. Ada yang mengartikannya sebagai kecenderungan terus-menerus dengan hati meluap-luap. Ada yang mengartikan mendahulukan kepentingan orang yang dicintai daripada yang lain. Ada yang mengartikan menuruti keinginan orang yang dicintai, baik si dia berada di samping atau jauh. Ada juga yang mengartikan sebagai pengabdian.
Ada yang mengartikan bahwa makna hakikinya adalah menyerahkan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang menyisa. Ada yang berpendapat artinya engkau rela mengerjakan apa pun yang disenangi orang yang kau cintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa, dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan. Ada yang berpendapat, artinya ialah usahamu untuk membuat sang kekasih menjadi ridha.

Sebagian besar makna al-Mahabbah yang disebutkan Ibnu Qayyim berpusat bagaimana manghaturkan apa yang kita punyai; kemampuan, harta, nyawa kepada kekasih agar ia ridha, senang, dan keinginannya terpenuhi. Hamper tidak ada makna al-Mahabbah yang berpusat pada memuaskan keinginan pribadi orang yang mencintai kecuali pada satu makna, keinginan agar yang dicintai selalu hadir di sisi orang yang mencintai. Selain satu makna itu tidak ada.

Seharusnya Cinta

Dari ilmu psikologi Barat dan pandangan Ibnu Qayyim di atas, makna cinta didominasi oleh oleh bagaimana agar yang dicintai ridha, terpuaskan keinginannya oleh orang yang mencintai. Mereka yang mencintai. Mereka yang mencintai tergerak untuk menghargai kekasihnya, memperhatikannya, dan memenuhi kebtuhannya daripada kebutuhan diri sendiri.

Cinta yang berjalan pada porosnya tentulah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai bukan sebaliknya. Cinta yang seharusnya tentu membuat yang dicintai merasa dihargai, aman, terpenuhi kebutuhannya, damai, dan tenteram.

Memaknai cinta dengan makna seperti itu tentu membuat hidup lebih indah dan mudah. Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang kau cintai. Dan dengan seperti itulah engkau merasa bahagia. Dengan membahagiakan orang yang engkau cintai-lah engkau akan merasa bahagia. Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang kau cintai menjadi bahagia. Dengan melihat orang yang kau cintai berada dalam kebahagiaan, engkau merasa bahagia, dan begitulah engkau mencintainya.

Rabu, 03 Februari 2010

I k h l a s h

Didalam Al-Qur'an ada ayat yang berbunyi  :
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)." (Q.s. Az Zumar: 3).

Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: IkhIas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim." (H.r. Ahmad, dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar).

Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya sesembahan. Sikap taat dimaksudkan adalah taqarrub kepada Allah swt, mengesampingkan yang lain dari makhluk, apakah itu sifat memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia. Ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah swt. semata. Dapat dikatakan, "Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk" Dikatakan juga, "Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia."

Nabi saw. ditanya, apakah ikhlas itu? Nabi saw. bersabda:
'Aku bertanya kepada Jibril as. tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya?'Allah swt. menjawab, 'Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai." (H.r. Al Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, dan sifat shidq berarti membersihkan diri dari kesadaran akan diri sendiri. Orang yang ikhlas tidaklah bersikap riya' dan orang yang jujur tidaklah takjub pada diri sendiri."
Dzun Nuun al-Mishry berkomentar, "Keikhlasan hanya tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menetapi dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus-menerus."
Abu Ya'qub as-Susy mengatakan, "Apabila mereka melihat keikhlasan di dalam keikhlasannya, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan lagi."

Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, 'Ada tiga tanda keikhlasan: Manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya."

Abu Utsman al-Maghriby mengatakan, "Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlas orang awam. Mengenai ikhlas manusia pilihan (khawash), keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka menyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri, tidak pula, peduli terhadap amalnya. Itulah keikhlasan kaum pillhan."
Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan, "Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan keikhlasannya itu, jika Allah swt. menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, dia akan mengugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri dan jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan Allah swt. (mukhlash), bukannya berikhlas (mukhlish)."

Sahl berkata, "Hanya orang yang ikhlas (mukhlish) sajalah yang mengetahui riya'."
Abu Sa'id al-Kharraz menegaskan, "Riya' kaum 'arifin lebih baik daripada ikhlas para murid."
Dzun Nuun berkata, "Keikhlasan adalah apa yang dilindungi dari kerusakan musuh."

Abu Utsman mengatakan, "Keikhlasan adalah melupakan pandangan makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada Khalik."
Hudzaifah al-Mar'asyi berkomentar, "Keikhlasan berarti bahwa perbuatan-perbuatan si hamba adalah sama, baik lahir maupun batinnya."
Dikatakan, "Keikhlasan adalah sesuati yang dengannya Allah swt. berkehendak dan dimaksudkan tulus dalam ucapan serta tindakan."
Dikatakan pula, "Keikhlasan berarti mengikat diri sendiri pada kesadaran akan perbuatan baik"
As-Sary mengatakan, " Orang yang menghiasi dirinya di hadapan manusia dengan sesuatu yang bukan miliknya, berarti tercampak dari penghargaan Allah swt."
Al-Fudhail berkata, "Menghentikan amal-amal baik karena manusia adalah riya', dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkanmu dari dua penyakit ini."

Al-junayd mengatakan, "Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya."
Ruwaym menjelaskan, "Ikhlas dalam beramal kebaikan berarti bahwa orang yang melakukannya tidak menginginkan pahala, baik di dunia maupun di akhirat."

Dikatakan kepada Sahl bin Abdullah, 'Apakah hal terberat pada diri manusia?" Ia menjawab, "Keikhlasan, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya."
Ketika ditanya tentang ikhlas, salah seorang Sufi menjawab, "Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah swt. untuk menjadi saksi atas perbuatanmu."

Salah seorang Sufi menuturkan, "Aku menemui Sahl bin Abdullah pada hari jum'at di rumahnya sebelum shalat. Ada seekor ular di rumahnya, hingga aku ragu-ragu berdiri di pintu. Ia berseru, 'Masuklah! Tidak seorang pun dapat mencapai hakikat iman jika ia masih takut pada sesuatu pun di atas bumi.' Kemudian ia bertanya, Apakah engkau hendak mengikuti shalat jum'at?' Aku menjawab, jarak dari sini ke masjid di depan kita adalah sejauh perjalanan sehari semalam.' Maka Sahl lalu menggandeng tanganku, dan sesaat kemudian kami telah berada di masjid itu. Kami masuk ke dalam dan shalat, kemudian keluar. Sahl berdiri di sana, melihat ke arah orang banyak, dan berkata, 'Banyak orang mengucapkan Laa i1aaha illallaah, tapi yang ikhlas amatlah sedikit'."
Makhul berkata, "Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama empatpuluh hari, kecuali akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari hati pada lisannya."

Yusuf bin al-Husain berkomentar, "Milikku, yang paling berharga di atas dunia ini adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah berjuang untuk membebaskan hatiku dari riya', namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dalam warna yang lain!"

Abu Sulaiman berkata, "Jika seorang hamba berikhlas, maka terpotonglah waswas dan riya'."



Jadi berhati-hatilah dengan hatimu untuk sempurnya ibadahmu







Masuk Islam karena suara adzan

Ini kisah menarik tentang mualaf dan patut disimak


Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu Muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang kami rangkum dari beberapa situs.

“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.

“Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang Muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling

Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara Muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan masjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan Muslim, dilarang masuk ke dalam masjid,“ katanya.

“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.

Tertarik bahasa Arab

“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris
dan Jerman.

Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.

Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan Muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Al-Quran


Ada juga beberapa warga Muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang Muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. “Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan Muslim,” kenangnya.

“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.

Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang disebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan Muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.

Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. “Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.

Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).

Saya bertanya kepada kawan-kawan Muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”

Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang. Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”

Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Setiap hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang Muslim.

Debar aneh

Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman Muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“

“Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang Muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.

Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.

Bersyahadah


Tatiana memberitahukan rekan Muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Seperti kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.

Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.

“Contekan” shalat

“Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya dengan sangat senangnya.

“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya. “Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.

Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. 
“Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya.

Diambil dari kisah yang ada di (Hidayatullah.com)








Selasa, 02 Februari 2010

Tukang Sampah

Tuh kamu lihat kalau kamu tidak rajin belajar, kamu nanti kerja kayak begitu jadi tukang sampah yang setiap hari pekerjaan korek-korek sampah untuk dikumpulkan dipembuangan sampah. Itulah cerita  yang sering kita berikan kepada anak-anak kita kalau malas belajar atau tidak mau belajar.

Bisa juga kita seringkali memberikan contoh kepada anak kita, keponakan kita kalau pekerjaan tukang sampah itu jorok dan tidak pantas. Apakah betul demikian....


Inilah kisah menarik yang patut kita simak.




Setiap hari tukang sampah di perumahan tempat keluargaku tinggal lewat, dan membawa sampah-sampah yang telah kami bungkus plastik. Bila seminggu saja ia tidak datang dengan gerobaknya, kami sering dibuat kelabakan.

Pernah suatu ketika ia sakit berhari-hari. Maka setiap kali kami harus terpaksa membakar sampah-sampah kami di tempat sampah di depan rumah kami. Bila tidak dibakar, maka bau yang menyengat akan cepat merajalela, tidak hanya di sekitar rumah kami, tetapi juga sampai ke ujung jalan.

Kami tidak bisa bayangkan, bila tidak ada satu pun orang yang mau menjadi tukang sampah bagi kami. Yang rajin membersihkan sampah-sampah bagi kami. Yang rela menghindarkan kami dari berbagai macam penyakit karena sampah kami.

Ternyata yang butuh tukang sampah tidak hanya diperumahan atau dirumah,-rumah tempat kita tinggal, tapi juga hati kami. Bila tidak ada "tukang sampah" yang bersedia memperhatikan kami, apakah jadinya rumah yang di dalam batin kami? Tidakkah berbagai "penyakit" akan semakin berkembang dan menumpuk menyesakkan jiwa?

Sekaya-kayanya orang hidup di dunia, kita masih perlu juga untuk menjadi "pemulung sampah" bagi sesama, terutama bagi mereka yang kita cintai. Mencintai orang lain itu berarti siap menjadi tukang sampah, dan bahkan ada kalanya harus malahan menjadi tempat sampah itu sendiri. Bila tidak mau demikian, berarti cinta yang Anda katakan tidak pernah menjadi kenyataan. Mari kita bantu mereka sebenarnya dengan adanya mereka hidup kita, keluarga kita, lingkungan kita serta kesehatan kita jadi lebih terjaga. Semoga...........