SINOPSIS

Tujuan blog ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, Blog ini mudah-mudahan dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Blog ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaan dan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.








More Bismillah Comments



Content this BLOG


Rabu, 20 Januari 2010

Taat Kepada Penguasa


Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, “para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf)

Dengan membaca keterangan di atas maka jelaslah kekeliruan orang yang mengatakan bahwa dewasa ini di segenap penjuru dunia tidak ada lagi ulil amri/penguasa yang harus ditaati. Bahkan, dia mengatakan bahwa masyarakat yang taat kepada para penguasa tersebut maka telah menjadikan mereka sebagai para thoghut (sesembahan selain Allah)! Dan hal itu juga mengisyaratkan kepada kita bahwa pemikiran yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa yang zalim -walaupun tidak mengharuskannya- adalah salah satu pemikiran sesat warisan sekte Khawarij yang harus kita waspadai!

Semoga Allah memberikan taufik kepada para penguasa umat Islam untuk menegakkan tauhid dan sunnah serta memberantas syirik dan bid’ah.
Selesai disusun di Yogyakarta.
Pertengahan Muharram 1431 H
Seraya memuji kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad,  para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka

Disalin kembali untuk Dakwah & Ukhuwah

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Jumat, 15 Januari 2010

Islam Rahmatan Lil Allaamin

Iqro = Bacalah

Menebar kedamaian dan menggapai kehidupan yang mapan

Didunia yang serba cepat berubah beberapa kalangan moslem melakukan penyesuaian dan pengkajian dalam membangun sisi kehidupan, terutama dalam segi spiritual. Disisi lain orang yang iri hati dan dengki dunia Islam melakukan penodaan serta penistaan dengan membuat kontent yang berisikan hal-hal bersifat Islami tapi justru merusak dan meracuni orang-orang yang belum memahami apa arti itu Islam.

Dalam menghadapi tantangan jaman para pemikir Islam dan ahli agama Islam, dan para sufi yang mengangkat nilai-nilai spiritual Islam menghadapi ujian yang berat agar para pencari fakta dan data mengenai apa, mengapa, dan bagaimana Islam itu jelas dan tidak memihak. Karena dasarnya Islam itu indah karena keindahan yang diberikan oleh Allah adalah sebagai pembawa berkah. Sesuai dengan janji Allah Al-Qur'an akan dijaga sepanjang jaman masih saja ada manusia-manusia rendah yang merendahkan Allah dan Rasullulah dengan tulisan dan data yang tidak ada referensinya, mereka memutar balikkan fakta dan seolah-olah saya katakan sekali lagi seolah-olah mereka menulis yang sebenarnya.

Rabu, 13 Januari 2010

Dzikir & Pikir

Mari bedzikir dan berfikir


mari berfikir dan berdzikir

IQRO

QS. At Tahriim (66) : 8


"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Didalam Islam bila seseorang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan tidak akan mengulanginya Allah SWT, memberikan pengampunan dan menghapus dosa-dosanya asalkan tidak mengulanginya kembali itulah yang disebut sebagai "tobatan nashuha". Karena bila melakukan lagi akan sangat berbahaya bagi yang melakukannya, karena azab Allah lebih pedih dari rasa sakit yang paling pedih.....










Wied’s, Blog

Stories of New Muslims

In the Name of Allah, the Most Compassionate, the Most Merciful




This page is built on the shoulders of those people who have volunteered their personal stories of how they entered Islam. If you, the reader, are open to the possibility that Allah, the Creator, has given you clear evidence to accept Him and His message of Islam, then read these stories. From different backgrounds, and different experiences, you just might find someone here who had the same questions and doubts that you may have. Many of these people have endured against tremendous obstacles, including parental opposition, despair with other religions, being blind, and being lied to about the true nature of Islam.



If you would like to share your story on how you entered Islam, please let us know! Send your story to msa@usc.edu.

Details see :
http://web.archive.org/web/20060702181008/http://www.usc.edu/dept/MSA/newmuslims/

How to become a Muslim

In the name of Allah the beneficent the Merciful



If anyone has a real desire to be a Muslim and has full conviction and strong belief that Islam is the true religion ordained by Allah for all human-beings, then, one should pronounce the "Shahada", the testimony of faith, without further delay. The Holy Qur'an is explicit on this regard as Allah states:

"The Religion in the sight of Allah is Islam." (Qur'an 3:19)


In another verse of the Holy Qur'an, Allah states:


"If anyone desires a religion other than Islam (Submission to Allah), Never will it be accepted of him; and in the Hereafter he will be in the ranks of those who have lost."(Qur'an 3:85)


If a person does not pronounce the Shahada and enter Islaam, we cannot say that he is a Muslim, even if he admired Islaam and recognized that it the best religion, a great religion, and so on. Abu Taalib, the uncle of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) died a kaafir (non-Muslim), and Allaah forbade His Prophet to pray for forgiveness for him, even though he used to defend the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and said in his poems: "I do know that the religion of Muhammad is better than all other religions of mankind; were it not for fear of blame or slander, you would find me accepting it completely."

Wassalam

Senin, 11 Januari 2010

One World Society

One World Society


Membayangkan bagaimana rasanya seluruh manusia berbuat kebaikan untuk kesehjateraan hidup manusia yang lainnya dengan membantu sesamanya dengan memberikan kekuatan baik dibidang agamanya, kehidupannya, masa depannya, kesehjateraannya, ataupun dengan meningkatkan nilai-nilai kehidupannya agar bermanfaat satu dengan lainnya.

Tuhan menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbeda-beda, tapi ada saja yang merasa mereka lebih baik dari yang lainnya, atau yang satu lebih berguna dari yang lainnya, atau bahkan yang lebih parah lagi yang satu merasa lebih hebat, lebih kuat, lebih berhak masuk surga dengan menjelek-jelekkan yang lainnya. Dan terkadang mereka merasa lebih berhak atas surga yang akan ditempatinya, dan bahkan ini yang lebih parah lagi merasa Indonesia daripada orang Indonesia lainnya........

Bagaimana kelanjutannya, nantikan saja ya..........