SINOPSIS

Tujuan blog ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, Blog ini mudah-mudahan dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Blog ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaan dan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.








More Bismillah Comments



Content this BLOG


Minggu, 15 Agustus 2010

Mengatasi Isu Salah Kiblat dengan Teknologi

Arah Kiblat dimana Ka’bah menjadi acuan arah ketika umat Islam melakukan ibadah shalat begitu penting dan menjadi syarat sahnya shalat. Isu ini dikabarkan ramai di Jawa Tengah, mengingat beberapa masjid diketahui bergeser dari arah seharusnya menghadap Ka’bah.
Seperti Masjid Raya Baiturahman Semarang yang setelah ditelusuri ternyata kiblat bergeser 2 derajat nol menit 32,48 detik, kurang ke selatan dari arah seharusnya. Mengingat jarak Indonesia ke Ka’bah di Mekkah cukup jauh, meski dengan derajat pergeseran ‘kecil’ namun hal itu membuat masjid ini berkiblat melenceng 214 kilometer dari Ka’bah.

Apakah temuan tersebut merupakan hal yang aneh? Tentu tidak. Bukan karena memang orang-orang tua kita dahulu ‘asal’ saja menentukan arah kiblat, namun perkembangan terkini dari teknologi informasi membuat posisi Ka’bah begitu juga dengan masjid yang ingin mengetahui arah kiblatnya dapat diketahui secara pasti. Perkembangan ini membuat cara-cara penentuan berdasar atau melalui benda alam seperti matahari maupun kompas biasa, menjadi tertinggal dan dirasa kurang tepat–kalau tak mau dibilang salah.
Namun, meski dirasa menjadi hal yang wajar, mengingat Ka’bah menjadi acuan arah dalam shalat, baiknya semua masjid melakukan penentuan ulang arah kiblat. Kejadian salah arah kiblat, diyakini bukan hanya terjadi di Jawa Tengah. Kesalahan ini mungkin saja terjadi di seluruh Indonesia mengingat cara-cara penentuan kiblat masa lalu adalah hampir sama, dan memang belum banyak yang benar-benar menggunakan pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam penentuan arah kiblat, mengingat ‘penemuan’ koordinat dari Ka’bah secara meluas juga baru setelah layanan seperti Google Earth diluncurkan.
Meski memang, tingkat melenceng antara masjid yang satu dengan masjid lainnya, bisa jadi tidak sama. Mungkin ini karena ada juga masjid yang sudah menggunakan pengukuran dengan kompas yang juga dilengkapi dengan petunjuk arah Kiblat. Namun, kompas dengan penunjuk arah kiblat itu lebih banyak hanya ditujukan dan digunakan di kota-kota besar saja, sehingga ketika untuk kota kecil bahkan kecamatan atau kelurahan/desa, biasanya menggunakan posisi kiblat dengan mengacu ke kota besar terdekat.

Kiblat dan TI
Teknologi informasi begitu penting dewasa ini karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, dari mendapatkan informasi terkini, layanan pemerintahan secara elektronik, layanan bisnis sampai hal-hal keagamaan, termasuk dalam hal penentuan kiblat. Dua hal perkembangan yang cukup signifikan terjadi adalah pemanfaatan Global Positioning System (GPS) dan hadirnya layanan Google Earth.
GPS ditemukan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan Ivan Getting yang merupakan sistem satelit navigasi, yang utamanya didesain untuk naviasi. Saat ini GPS juga menonjol sebagai perangkat waktu (timing). Dengan 18 satelit, dimana masing-masing ada enam dalam tiga orbit angka dengan jarak 120º, dan stasiun bumi, membentuk GPS awal.

GPS menggunakan”bintang buatan manusia” atau satelit sebagai titik referensi menghitung posisi geografis, dengan akurasi dalam meter. Dalam kenyataannya, dengan bentuk GPS yang lebih maju–sejak 1994 menggunakan 24 satelit, pengukuran dapat menjadi lebih baik hingga dalam sentimeter. GPS telah digunakan dalam banyak keperluan, ’penuntun’ arah transportasi darat, laut maupun udara maupun mengukur ketinggian sebuah gunung, misalnya.
Dengan dilengkapi peta digital, GPS yang dipasang di mobil bahkan telepon seluler cerdas (smartphone) dapat digunakan untuk mencari jalan ke suatu tempat, bahkan jalan tikus, mencari keberadaan mobil ketika dicuri, sementara smarthphone bisa menentukan posisi ketika aplikasi twitter.com dipakai, bahkan ketika mengambil gambar dengan kamera yang tersedia di smarthone tersebut, koordinat lokasi tersimpan dalam file foto yang diambil nantinya.
Sementara Google Earth, besutan aplikasi dari Google yang dikenal sebagai mesin pencarian, merupakan sebuah program pemetaan interaktif yang disediakan oleh satelit dan fotografi udara yang mencakup keseluruhan planet Bumi. Google Earth dianggap sangat akurat karena dapat menggambarkan posisi gunung, gedung, rumah, termasuk masjid hingga sedekat-dekatnya.

Dan yang paling unik adalah aplikasi ini bersifat gratis, sehingga bisa diakses siapa saja dengan mudahnya untuk mencari lokasi yang diinginkan. Meski memang, ada layanan berbayar untuk fungsi tambahan dari layanan, tapi yang gratis pun dirasa sudah amat sangat cukup. Basis layanan Google ini juga dimanfaatkan beberapa situs internet semisal Qibla Locator.

Dengan GPS dan dipermudah Google Earth-lah, posisi Ka’bah di Mekkah, Arab Saudi, kini dengan mudahnya dijejak. Seperti ditunjukkan dari Goole Earth, koordinat letak Ka’bah adalah 21º 25′ 21.05” Lintang Utara dan 39º 49’ 34.31” Bujur Timur. Koordinat inilah yang memudahkan untuk melihat apakah posisi kiblat masjid yang ada di Indonesia sekarang ini melenceng atau tidak.
Cara sederhana yang digunakan apakah terjadi deviasi atau tidak arah kiblat masjid yang ada di Indonesia adalah dengan menarik garis dari titik sentral Ka’bah ke masjid yang akan kita uji. Namun, pengujian ini adalah indikasi awal apakah kiblat melenceng atau tidak.

Disebut indikasi awal karena pengujian dilakukan terhadap posisi masjid, yang umumnya adalah persegi empat dimana titik tengah dari keempat sisi bangunan itulah yang dijadikan titik uji, bukan keadaan posisi menghadap kiblat ketika shalat sesungguhnya dilakukan. Hal ini karena secara kebiasaan, masjid dibangun menghadap ke arah kiblat.

Dengan cara tersebut, misalnya kita bisa menguji bagaimana dengan posisi kiblat dari Masjid Istiqlal, Jakarta. Dari koordinat tengah Masjid ini 6º 10′ 10.01” Lintang Selatan dan 106º 49’ 53.30” Bujur Timur diketahui bahwa jarak masjid ini dengan Ka’bah adalah 7.910 km. Dan dari penarikan garis, Masjid Istiqlal dapat dinyatakan lurus berkiblat ke Ka’bah.
Masjid lain yang coba diuji adalah Masjid Kubah Emas, di Depok. Dengan melihat titik tengah dari bangunan yang terletak pada koordinat 6º 23′ 03.36” Lintang Selatan dan 106º 46’ 18.94” Bujur Timur dapat diketahui bahwa ada kemiringan sudut sekitar 8º.

Kemiringan juga terjadi pada Masjid Baiturrahim yang terletak di kompleks Istana Negara. Berdasar koordinat titik tengah bangunan 6º 10′ 11.95” Lintang Selatan dan 106º 49’ 22.86” ada sekitar 30º pergeseran. Sehingga, arah kiblat yang dituju bukanlah Ka’bah di Arab Saudi melainkan ke Afrika.
Dari indikasi awal, untuk memastikan apakah masjid Anda benar-benar melenceng atau tidak, dan ke mana arah kiblat seharusnya, dapat dipakai perangkat GPS. Setelah memasukkan koordinat Ka’bah, pengukuran dapat dilakukan di luar bangunan masjid (karena GPS harus mendapatkan sinyal dari satelit) di depan posisi imam biasanya berada, dapat dijejak ke mana arah kiblat seharusnya. Sebab dengan fasilitas yang ada, arah kiblat langsung dapat ditunjukkan dengan arah panah di perangkat GPS yang kita pakai.

Meskipun, dalam indikasi awal ada kemiringan, karena berdasar posisi bangunan masjid, mungkin saja, dalam shalat arah kiblat sudah diluruskan. Sebab, urusan geser-menggeser arah kiblat ini sesungguhnya bukan urusan besar, dimana bangunan harus diubah arahnya, melainkan dapat menggeser sajadah menghadap arah kiblat seharusnya. Sehingga, isu salah kiblat dapat disikapi dengan tenang, melakukan pengecekan dan perbaikan, dengan cara mudah, yaitu memanfaatkan teknologi informasi.

AS Membuat Al Quran Palsu di Timur Tengah

Rabu, 06/05/2009 17:28 WIB
Al Quran palsu baru saja beredar di Timur Tengah. Qur'an palsu ini dicetak oleh dua perusahaan Amerika dengan embel-embel "True Furqon" atau Furqonul Haq.
Al Qur'an yang telah bertahan lebih dari 1400 tahun keasliannya, seperti yang kita tahu, adalah kitab suci umat Islam. Berbeda dengan Bibel umat Kristen, Qur'an tdaik punya versi apapun, walaupun dalam berbagai terjemahan, termasuk Al Qur'an yang diterjemahkan oleh para orientalis. Yang dimaksud kaum Orientalis di sini adalah para ilmuwan Kristen yang mempelajari Islam dan Qur'an, dengan niat untuk menjatuhkannya.
Qur'an dan terjemahannya yang beredar selama ini mempunyai 114 surat atau bagian, sedangkan True Furqon yang diklaim sebagai "Al Qur'an Abad 21" hanya mempunyai 77 surat, termasuk surat "Al-Fathihah, Al-Jana dan Al-Injil."

Surat-surat di dalam True Furqon tidak dimulai dengan "Bismillah" sebagaimana Al qur'an kecuali surat tertentu. Yang ada setiap surat dimulai dengan kepercayaan Kristen menyangkut konsep Trinitas. Al Qurqan mempunyai 366 halaman yang memakai huruf Arab dan terjemahan, untuk saat ini, bahasa Inggris. True Furqon juga banyak bertentangan dengan kepercayaan Islam. Salat satu ayatnya bahkan menyatakan bahwa poligami dilarang, perceraian diharamkan dan memuat pembolehan sistem perbankan.

True Furqon yang dijual dengan harga $3 AS mengatakan bahwa jihad sebagai sesuatu yang haram dan dilarang. Yang paling membuat heboh adalah hal ini ditemukan oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front). Jadi kemana saja bangsa Arab selama ini? (sa/mb)

Dikutip dari:

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/al-quran-palsu-beredar-di-timur-tengah.htm

London juga Miliki Pusat Kebudayaan Islam

 
15/08/2010 21:13
Liputan6.com, London: Sebuah pusat kebudayaan Islam, termasuk masjid yang cukup megah, dibangun di London, Inggris. Masjid Al-Manaar termasuk terbesar di Inggris dan diresmikan oleh Pangeran Charles pada 2000 lalu. 

Kegiatan di dalam masjid juga terus berkembang. Proyek pendidikan yang merupakan aspirasi jangka panjang dan inisiatif pada 2004 itu juga mendirikan lembaga pendidikan modern. Lembaga itu melayani kegiatan sekolah Islam dan memberikan beasiswa kepada yang membutuhkan.

Masjid itu memberikan kesejukan bagi warga Inggris, setelah seorang wartawan BBC meliput kegiatan masjid. Setiap Jumat, sekitar lima ribu warga Inggris yang beragama Islam mendatangi masjid tersebut untuk melakukan salat Jumat.(BBC/DES/SHA)
Oleh:
Desika Pemita
 

Al Quran Raksasa Segera Diresmikan

PALEMBANG — Penggagas Al Quran raksasa, Sofwatillah Mozaib, mengatakan bahwa Al Quran yang terbuat dari kayu tembesu ukuran panjang dua meter dan lebar 1,2 meter akan diresmikan pada 1 Muharam 1431 Hijriah (18 Desember 2009).

“Kami merencanakan peresmian Al Quran raksasa tersebut pada 1 Muharam 1431 Hijriah oleh Menteri Agama RI dan dihadiri Ketua DPR RI,” katanya di Palembang, Jumat (13/11) seusai melakukan kunjungan kerja ke pemkot setempat.

Menurut Sofwatillah yang juga anggota DPR-RI utusan Sumsel itu, setelah diresmikan, kitab suci raksasa tersebut akan dipajang di Museum Al Akbar yang segera dipersiapkan pembangunannya.
“Museum Al Akbar tersebut diharapkan dalam waktu dekat bisa terealisasi yang lokasinya berada di daerah strategis di tengah Kota Palembang sehingga memudahkan pengunjung datang melihat koleksi kitab suci berukuran raksasa itu,” tambah dia.

Ia mengatakan, Museum Al Akbar tersebut nantinya bukan hanya memajang Al Quran raksasa, melainkan juga menjadi tempat menyimpan Al Quran yang bersejarah, baik dari segi usia, maupun sejarah penggunanya.

“Mudah-mudahan dengan dibangunnya Museum Al Quran tersebut, umat Muslim semakin mudah mengakses pengetahuan mereka dalam upaya mendalami Islam,” katanya.
Dia menjelaskan, Al Quran menjadi pegangan wajib bagi umat Islam yang didampingkan dengan Al Hadits sehingga umat Muslim semakin mudah mengakses kitab suci tersebut dan memperkuat kecintaan mereka.

“Al Quran dan Al Hadits menjadi pegangan wajib karena mengandung ajaran-ajaran Islami, baik hubungan antara manusia dan manusia, maupun dengan sang pencipta,” ujar dia.
Sofwatillah menambahkan, khusus pembuatan Al Quran raksasa tersebut dilakukan oleh sejumlah ahli ukir bekerja sama dengan ulama yang menguasai secara benar tulisan kitab suci itu.
“Saat ini, Al Quran tersebut masih dipajang di Masjid Agung Palembang untuk dikoreksi ahli dan warga Palembang yang memahami betul karya putra daerah Sumatera Selatan itu,” ungkapnya.

JY
*)Dikronik dari OASE Kompas 14 November 2009

Isu Bakar Al-Quran di Florida

JAKARTA — Ulama NU, Dr KH Nuril Arifin, MBA, yang biasa disapa Gus Nuril, mengimbau agar umat Muslim di Indonesia tidak terprovokasi dengan kampanye pembakaran kitab suci Al Quran yang dilontarkan kelompok non-denominasi Dove World Outreach Center. Organisasi ini berbasis di Florida, Amerika Serikat.

“Saya mohon ke seluruh bangsa Indonesia agar tidak menyikapi gerakan ini dengan kemarahan. Dia tidak tahu, kalau kita balas dengan gerakan vandalis, rusak semua,” kata Gus Nuril dalam jumpa pers bersama tokoh lintas agama, di Kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Rabu (4/8/2010) di Jakarta.

Gus Nuril menekankan agar upaya tak beradab ini jangan sampai merusak persaudaraan antarumat beragama dan semangat pluralisme yang tumbuh di Indonesia. “Warga Muslim agar menahan diri dan tidak melakukan gerakan emosional, apalagi gerakan balasan sampai pada pembakaran,” ujarnya.
Aksi yang direncanakan oleh sekelompok kecil orang Amerika, kata dia, jangan dibalas dengan melampiaskannya pada orang-orang yang tak bersalah di Tanah Air. “Ibaratnya, yang maling orang Amerika, jangan pukuli orang Indonesia. Jangan cari orang yang tidak bersalah di sini,” ujarnya.
Peristiwa ini dinilainya merupakan ujian bagi umat Muslim. Menyikapinya, umat Muslim diimbau untuk menawarkan sikap perdamaian dan persaudaraan. “Saya yakin bangsa ini tidak terpengaruh dengan gerakan edan-edanan, tidak manusiawi, dan biadab ini,” tegasnya.

Pemerintah juga diharapkan segera merespons rencana oleh kelompok non-denominasi di Amerika Serikat itu, sebelum meluas dan mendapatkan reaksi dari masyarakat Muslim Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Udayana, juga mengutuk keras rencana aksi yang ditujukan untuk memperingati sembilan tahun peristiwa WTC itu.

“Kami mengutuk gerakan yang membakar kitab suci. Sama seperti kami, kami punya Wedha. Kami juga akan berontak jika ada aksi seperti ini. Oleh karena itu, kita harus memberi solidaritas atas gerakan usaha pembakaran kitab suci saudara umat Muslim,” kata Udayana.

Sumber: KOMPAS.COM, 4 Agustus 2010, “Umat Islam Diimbau Tak Terprovokasi”

Gerakan Pembakaran Al-Quran Sedunia

JAKARTA — Sejumlah tokoh pluralis dan organisasi di Indonesia, Rabu (4/8/2010), berkumpul untuk menyampaikan sikap menentang sebuah gerakan di AS yang menamakan dirinya Gerakan Hari Pembakaran Al Quran Sedunia. Gerakan yang dipelopori kelompok Dove World Outreach Center di Florida, Amerika Serikat, itu rencananya akan melakukan pembakaran Al Quran pada 11 September.

Hari Pembakaran Al Quran Sedunia ini rencananya dilangsungkan bertepatan dengan sembilan tahun tragedi 11 September 2001. Dove World Outreach pimpinan Dr Terry dan Sylvia Jones mengatasnamakan umat Kristen dan mengajak seluruh umat untuk berpartisipasi dalam Hari Pembakaran Al Quran Sedunia melalui akun Facebook-nya. Tak kurang sekitar 1.500 anggotanya mengklik tombol “Like” di Facebook.

Terry Jones, sesuai yang dilansir News.au, menuduh Islam dan hukum syariah bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001. “Kami menyerukan agar umat manusia, termasuk umat beragama di Indonesia, tak terjebak dalam perbuatan-perbuatan anarki seperti ini yang justru tidak memperlihatkan sikap keadaban,” ujar Gerakan Peduli Pluralisme pada pernyataan pers bersama, Rabu (4/8/2010) di Gedung Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Jakarta.

Kelompok yang menyatakan dukungannya terhadap pernyataan Gerakan Peduli Pluralisme, antara lain, PGI, Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Ma’arif Institute, Moderate Muslim Society, Forum Kerukunan Antarumat Beragama, Masyarakat Dialog Antaragama, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, dan Forum Lintas Agama.

Gerakan Peduli Pluralisme juga mengatakan, kampanye tersebut merupakan pelecehan terhadap agama Islam dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama. “Kami mengecam keras rencana aksi pembakaran Al Quran oleh Dove World Outreach Center. Kami minta Dove World Outreach Center menarik pernyataannya dan menghentikan rencana aksi yang tidak terpuji dan melecehkan keyakinan iman agama lain,” ujar Gerakan Peduli Pluralisme.

Sumber: KOMPAS.COM, 4 Agustus 2010, “Indonesia Tentang Gerakan Bakar Al Quran”

Obama Tetap Mendukung Pembangunan Masjid

Liputan6.com, Florida: Banyak ditentang sejumlah kelompok, Presiden Amerika Serikat Barack Obama bergeming dengan keputusannya. Obama tetap mendukung pembangunan pusat Islam dan masjid dekat "Ground Zero" New York, AS. "Saya tidak sedang mengomentari dan saya tidak akan mengomentari kebijaksanaan pengambilan keputusan soal pembangunan masjid di sana," kata Obama, Ahad (15/8).

Izin diberikan mengingat pembangunan pusat Islam dan masjid di lokasi serangan 11 September 2001 itu untuk menggambarkan "nilai-nilai Amerika". Hak orang untuk beribadah telah diatur para pendiri bangsa AS. "Itulah nilai dasar negara kita," imbuh presiden Afro-Amerika pertama itu. Proyek pembangunan direncanakan beberapa blok dari titik serangan.

Pernyataan disampaikan Presiden Obama sehari setelah memberi dukungannya pada proyek pembangunan masjid dan pusat Islam [baca: Obama Dukung Bangun Masjid di Dekat Ground Zero]. Keputusan itu memicu pro dan kontra. Salah satunya ditentang kelompok "9/11 Families for a Safe and Strong America".

Mereka menuding Presiden Obama tidak sensitif terhadap para keluarga korban serangan 11 September 2001. Dukungan Obama dinilai kabar yang mengejutkan. Keluarga 9/11 untuk Amerika yang Aman dan Kuat menuduh Presiden Obama telah memasung AS di tempat di mana "hati Amerika hancur sembilan tahun lalu dan nilai-nilai kebenarannya dipertontonkan kepada semua orang".

Tak semua korban serangan 11 September 2001 keberatan. Kelompok lain yang juga mewakili keluarga para korban 9/11, "September Eleventh Families for Peaceful Tomorrows" justru mendukung. Mereka menyatakan, mendukung terwujudnya toleransi antaragama karena sejalan dengan nilai-nilai fundamental AS tentang kebebasan dan keadilan untuk semua. Pernyataan mereka diutarakan pada Mei silam.

Dewan Kotapraja New York telah menyetujui rencana pembangunan gedung Manhattan menjadi sebuah pusat peribadatan Muslim. Gedung itu juga menjadi tempat bagi pertukaran antar-kebudayaan yang disebut "Cordoba House" itu.

Presiden Obama mengerti rasa sakit dan penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun dia meminta rakyat Amerika agar selalu ingat siapa lawan dan apa yang diperjuangkan. "Semua itu disebabkan oleh Al Qaida, bukan oleh Islam..." tutur Obama.

Menurut Obama, pada kenyataannya, Al Qaida justru telah membunuh lebih banyak warga Muslim daripada para penganut agama lain. Di antara para korban 9/11 ada warga Muslim yang tak berdosa.

Dalam serangan kelompok Al Qaida terhadap menara kembar "World Trade Center" New York di lokasi Ground Zero sekarang, sedikitnya 3.000 orang tewas.(Ant)

Dikutip dari berita liputan6.com
http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201008/291387/Obama.Tetap.Mendukung.Pembangunan.Masjid

Kamis, 12 Agustus 2010

Reaktualisasi Makna Jihad di Era Global

JIHAD menjadi kosakata populer di Indonesia pascatragedi WTC 2001 silam. Namun konotasi negatif masih berhembus sama; sebuah kekerasan fisik, pembantaian, pembunuhan dan teror. Kasus Maluku, Poso, dan Afghanistan, bom Bali sebuah Cafe, bom di hotel JW Marriot, adalah beberapa contoh paling riil dari pemaknaan jihad dengan konotasi negatif seperti itu. 

“Ketika ia disebut orang, maka yang segera muncul dalam kesadaran pikiran publik adalah bentuk-bentuk kekerasan fisik, sweeping, perang. Meski telah masuk dalam kosakata Indonesia, tetapi ia masih memiliki makna dalam bahasa Arab dengan segala nuansa kebudayaannya,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon, KH Husein Muhammad

Menurut Husein, Al-Quran menyebut kata jihad dalam sejumlah ayat. Kurang lebih 41 ayat yang tersebar dalam Mushaf Al-Quran. Secara bahasa (etimologi) ia berasal dari kata juhd atau jahd. Artinya adalah kesungguhan, kemampuan maksimal, dan usaha yang sangat melelahkan. Dari kata ini juga terbentuk kosa-kata ijtihad. 

“Tetapi yang terakhir ini lebih mengarah pada upaya dan aktivitas intelektual yang serius dan melelahkan. Dalam terminologi sufisme juga dikenal istilah “mujahadah”, sebuah usaha spiritual yang intens, bahkan mungkin sampai pada tingkat ekstase. Orang yang berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh disebut mujahid atau mujahidin untuk orang banyak,” jelasnya.
Dalam terminologi Islam, kata Husein, jihad diartikan sebagai perjuangan dengan mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan manusia untuk sebuah tujuan. Pada umumnya tujuan jihad adalah kebenaran, kebaikan, kemuliaan, dan kedamaian. “Menurut Fakhr al-Din al-Razi, jihad diarahkan untuk menolong agama Allah, tetapi bisa juga diartikan sebagai perjuangan memerangi musuh (Tafsir al Kabir, V/39),” tegasnya. 

Pada sejumlah ayat yang lain, kata Husein, jihad mengandung makna yang sangat luas, meliputi perjuangan dalam seluruh aspek kehidupan. Jihad adalah pergulatan hidup itu sendiri dan tidak semata-mata perang dengan pedang atau mengangkat senjata terhadap orang-orang kafir atau musuh. Lebih jauh Husein menyatakan, transformasi makna jihad seperti ini juga di latar belakangi oleh sebuah kenyataan bahwa adalah kemustahilan bagi kaum muslimin dewasa ini untuk merealisasikan tujuan-tujuan ideal mereka; mendirikan negara Islam universal. “Jihad dengan pengertian perang, meskipun masih tetap diakui, akan tetapi ia bersifat kondisional, dan dalam rangka mempertahankan diri serta bukan an sich dalam kerangka agama,” tegasnya. Tokoh Muslim asal India, Sayyed Ahmad Khan, menawarkan penafsiran jihad jenis ini. 

Dalam pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Quran, ia menyampaikan pandangannya bahwa jihad adalah wajib bagi kaum. “Kafir atau musyrik dalam pengertian ini, bukan lagi berarti orang yang tidak beragama Islam dan penyembah berhala atau manusia, melainkan pelaku-pelaku penindasan, penganiayaan dan perusakan terhadap manusia, alam dan nilai-nilai kemanusiaan universal,” ujarnya. Berangkat dari sini, Sayyed tidak lagi mengarahkan jihad terhadap penganut agama non Islam, tetapi terhadap para pelaku penindasan, kezaliman dan kekerasan. Prinsip kebebasan berkeyakinan yang dinyatakan secara tegas oleh Al-Quran jelas menafikan penyerangan terhadap orang-orang beragama atau berkeyakinan siapapun dia, Yahudi, Nasrani atau lainnya. “Sejarah Nabi SAW di Madinah juga menjadi bukti paling nyata atas prinsip ini,” tegasnya. 

Dosen Fakultas Syariah IAIN-Sumatra Utara dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ishlahiyah Binjai, HM Jamil, menyatakan, kata jihad mesti dipahami secara konprehensif dan dalam. Tidak boleh ada upaya-upaya untuk mereduksi (mengurangi) atau menjadikan makna yang satu kurang signifikan dibandingkan dengan makna yang lain, apalagi menjadikan makna yang lebih penting menjadi makna yang kurang penting. “Itu bisa berdampak tidak baik bagi pola perjuangan umat Islam ke depan,” tegasnya. Sementara itu, dari kota suci Mekah, intelektual Muslim yang juga mantan menteri agama, KH Dr dr Tarmizi Taher, ketika dihubungi melalui sambungan telepon menyatakan, yang terpenting dalam mengaktualisasikan makna jihad adalah bagaimana kita berjihad dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat dan bangsa. 

Kontekstualisasi dan reakstualisasi makna jihad juga menuntut kepekaan dan skala prioritas. “Saat ini yang mendesak adalah jihad dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan umat, serta pemberantasan korupsi secara menyeluruh sampai keakar-akarnya karena korupsi itu membuat masyarakat menjadi miskin, kelaparan, kekurangan pendidikan, serta kebodohan,” papar Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI). 


Penulis buku Berislam Secara Moderat (Januari: 2007) ini menambahkan, umat lain tidak perlu takut atau risih dengan kata jihad, karena tujuan dari jihad sangat mulia.

Komentar Aniston Perempuan Tak Butuh Lelaki Menuai Kecaman

Metrotvnews.com, New York: Setelah melontarkan komentar soal perempuan tidak membutuhkan lelaki untuk memiliki anak, bintang film 'The Switch' Jennifer Aniston dikecam sejumlah pihak. Salah satunya dari pemandu acara televisi, Bill O'Reilly.

''Dia melemparkan pesan kepada anak-anak usia 12 dan 13 tahun bahwa, 'Hei, kau tidak memerlukan seorang lelaki. Kau tidak membutuhkan seorang ayah.' Pesan itu destruktif bagi masyarakat kita,'' kata Bill gusar dalam acara FOX News yang dipandunya, pekan ini.

Pembawa berita FOX News Gretchen Carlson pun berpendapat serupa. ''Dia menjadikan orang tua tunggal terdengar glamour,'' kata Caralsin seperti dikutip situs usmagazine.com.

Dalam komedi romantis terbarunya, 'The Switch,' yang akan ditayangkan di bioskop mulai 20 Agustus 2010, Aniston bermain sebagai Kassie, seorang perempuan lajang yang mencari donor sperma.

Dalam sebuah konferensi pers akhir pekan lalu, mantan istri Brad Pitt itu berkomentar soal menjadi ibu tunggal yang akhirnya kini menjadi masalah. ''Kaum perempuan semakin menyadari bahwa mereka tidak harus menikah dengan seorang lelaki hanya untuk memiliki anak," kata Aniston.

"Zaman telah berubah, dan satu hal yang mengagumkan adalah kita kini mempunyai banyak pilihan. Tidak seperti zaman orang tua kita dulu, ketika kau tidak bisa memiliki anak karena kau harus menunggu terlalu lama,'' kata Aniston. (MI/DOR)

Disalin dari:
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/08/12/25872/Komentar-Aniston-Perempuan-Tak-Butuh-Lelaki-Menuai-Kecaman/